Refleksi Budaya : Persenan di Hari Lebaran

(Foto sumber : pixabay)

Iedul Fitri 1 Syawal 1444 Hijriyah kembali menjadi hari yang berbahagia bagi umat Islam. Di Indonesia, Iedul Fitri biasa disebut dengan istilah "Lebaran".

Hari lebaran adalah hari yang menyenangkan terkhusus anak-anak. Di hari itu harap-harap yang mereka bayangkan, akhirnya terwujud. Mereka mendapat hadiah pemberian atau "persenan" dari orang tua di keluarga besar maupun tetangga lingkungan rumah.

Entah sejak kapan budaya persenan ini dimulai. Namun sepertinya khas Indonesia. Suka cita lebaran sangat kentara bukan saja karena "vibes-nya" tapi juga budaya yang mewarnainya.

Memaknai budaya persenan lebih jauh ialah bahwa uang/barang yang diberikan hendaknya disadari sebagai bagian dari infaq dan sedekah. Tujuan luhur yang melatari ialah untuk membahagiakan. Membuat anak-anak senang dan senantiasa menyukai Ramadhan.

Meskipun mungkin hari-hari yang mereka lalui selama Ramadhan di isi dengan banyak bermain dan bercanda ketika shalat tarawih. Biarkan anak-anak memenuhi harinya dengan kegembiraan. Barulah ketika beranjak masa remaja, mereka mulai diberikan batasan-batasan.

Memberikan iming-iming kepada anak tentang Ramadhan dengan berbagai hadiah adalah langkah pertama dan yang relevan untuk mereka. Sebab, memberikan ceramah tentang nilai luhur dan keberkahan agung terkait puasa Ramadhan hanya membuat anak-anak menatap kebingungan. Pikiran mereka adalah bermain dan hadiah yang menyenangkan.

Kembali soal budaya persenan yang dimaknai sebagai sedekah. Kita perlu memagari hati dan pikiran agar tetap pada niat awal. Sebab, terkadang kebersihan niat bisa tercemar oleh bisikan kesombongan. Bahayanya lagi ialah sombong yang tidak terasa.

Menjaga kesederhanaan ditengah kehidupan yang materialistis bukan hal mudah. Bisa saja dianggap tak mampu atau miskin. Tidak mengapa, jangan hirau dengan anggapan rendah itu. Karena hakikatnya memang kita fakir di dunia.

Sementara, budaya persenan yang sudah melekat kuat pada akhirnya membentuk opini umum yang dianggap menjadi keharusan. Padahal ini hanya budaya, bukan ketentuan syariat. Islam menganjurkan umatnya berinfaq dan sedekah apabila memiliki kemampuan. Infaq bersifat materil sedangkan sedekah bisa pemberian imateril. Kadarnya tidak tentu, sifatnya anjuran. Berbeda dengan zakat yang sifatnya wajib dan memiliki kadarnya masing-masing.

Opini umum yang terbentuk tentang keharusan memberi persenan di hari lebaran terkadang menjadi batu halangan bagi mereka yang sedang dalam kondisi ekonomi minim. Apalagi pekerja rantauan yang jauh dari kampung halaman. Niat pulang menikmati lebaran di desa dan melepas rindu pada keluarga. Justru harus tertunda karena ekses perilaku keliru dari pola pikir masyarakat yang menganggap persenan adalah keharusan.

Jadi, pemaknaan tentang budaya persenan perlu dibarengi dengan kesadaran yang berimbang. Persenan yang diberi hendaknya tulus tertuju. Jika tak mampu jangan risau, ini bukan keharusan. Jangan pula menagih atau memaksa untuk dapat diberi persenan karena kita tidak pernah tahu keadaan ekonomi seseorang.

Orang Indonesia memang dikenal ramah tamah. Mungkin karakter itu yang menjadi dasar dari bentuk budaya persenan. Implikasi keramahan yang menjelma menjadi perilaku kemurahan mengulurkan tangan. Mengeluarkan uang, sedikit atau banyak dari dompet hartanya. Semoga budaya ini tetap lestari terjaga dengan makna yang bersih. Selamat kembali bekerja! Sampai jumpa dengan Ramadhan 1445 H.

5 Komentar

  1. Gak cuma khas Indonesia, tapi di seluruh komunitas Muslim, kalo di Qatar, itu dipersennya emas kalau gak ditransfer langsung pake mesin EDC-nya 😅

    BalasHapus
  2. Sepertinya ini curahan hati 😅

    BalasHapus
  3. Berharap di kasih persenan di umur segini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, di persen sama Allah langsung tum.

      Hapus