Pesan Bapak: Kalahkan Rendahnya Daun Kencur

(Sumber: Pixabay.com)


Berbicara tentang kebijaksanaan dalam hidup memang mudah, tidak seperti melakukannya. Sebab yang pertama hanya tentang sederet kata dan kalimat. Tapi yang kedua, tentang manajemen hati dan nafsu.

Bahkan Maulana Jalaluddin Rumi pernah berkata tentang kebijaksanaan. "Kemarin aku menjadi pintar, aku ingin merubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, aku ingin merubah diriku sendiri". Betapa dalam makna dari ungkapan Rumi.

Bahwa bijak bukan hal mudah, tidak cepat membuat kita menerbangkan angan dan membangun tujuan. Bijak adalah sikap yang dalam, lembut, halus bahkan senantiasa diam dan bersembunyi dibalik tirai mata dan pikiran sepintas.

Sebagai pemuda yang lahir dari keluarga Sunda, aku sudah terbiasa dengan perilaku, bahasa dan bahkan nilai-nilai moral kehidupan yang bercorak budaya Sunda.  Orang tuaku melanjutkannya secara turun temurun.

Suatu sore, ketika aku dan bapak sedang menikmati semburat merah sinar matahari. Bapak berpesan tentang sikap dan perilaku, hendaknya merendahlah serendah mungkin, jikalau mampu, kalahkan rendahnya daun kencur yang menyentuh bumi.

Pepatah tentang nilai moral tersebut begitu dalam. Aku mengartikannya tentang kerendahan yang menghendaki penekanan nafsu, penghormatan kepada manusia dan kesadaran tentang ketidakberdayaan diri dihadapan Allah.

Manusia sebagai makhluk yang dibekali nafsu tentu wajib selama hidupnya untuk memanajemen nafsunya itu ke arah yang baik dan manfaat. Sementara dilain sisi, setan senantiasa mengajak manusia untuk mengarahkan nafsunya ke arah yang buruk. Oleh karena itu, nilai-nilai moral perlu diamalkan sebagai salah satu instrumen yang dapat mengarahkan diri kepada perintah dan jalan kebaikan.

Seperti bapak pernah berkata, jika ada seseorang, baik sepuh atau muda yang berbicara tentang sesuatu yang sebenarnya aku lebih menguasai dari orang tersebut. Tetaplah dengar dan simak dengan seksama. Tidak perlu aku memotong penjelasannya, menyangkal dan mengungkap dengan bangga bahwa aku juga lebih handal.

Mengangguk dan antusiaslah menyimak penjelasan orang itu. Namun tentu tidak pada pemaknaan membodohi diri sendiri. Dalam hal ini, aku hanya perlu menahan nafsu untuk tidak sombong dengan kemampuan yang dimiliki.

Tentang penghormatan kepada manusia, mengedepankan sikap rendah diri tentu dapat menjadi garis dikotomis yang dapat menahan nafsu tinggi hati dan merasa paling baik. Sehingga pada prakteknya, interaksi sosial aku kepada orang lain dimulai dari pribadi sebagai wadah kosong yang siap belajar untuk mengisinya melalui orang lain.

Penghormatan kepada manusia dalam perilaku dan tata krama sehari-hari wajib sering aku lakukan. Satu contoh sederhana, bertutur sapa jika hendak lewat dihadapan orang lain, terlebih bila ia lebih tua.

Tapi bagaimana jika ada orang yang tidak seperti itu kepadaku? Terkadang sebagai manusia biasa, tentu kerap menyeruak perlahan rasa yang buruk. Tapi sebetulnya untuk apa? Sudah baik ia lewat tanpa berulah, sudah baik ia lewat tanpa merusak, sudah baik ia lewat hingga jalan tak sepi.

Tentang ketidakberdayaan diri dihadapan Allah Swt ialah tentang kesadaran bahwa aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanyalah Hamba yang mendapat berbagai nikmat dan karunia kehidupan dari Allah Swt, tanpa kehendak-Nya mustahil aku bisa melakukan ini dan itu.

Kesadaran tentang diri yang lemah setidaknya mampu mengajak diriku menjauhi sifat-sifat Firaun atau Namrud. Sifat angkuh karena merasa diri serba bisa. Padahal, kemampuan, kekuasaan dan kenikmatan hidupnya adalah pemberian dari Allah Swt.

Secara teori, deretan panjang kata serta kalimat yang aku tulis tentang sebutir pelajaran kebijaksanaan. Tentu bukan hal mudah untuk menerapkannya. Sebagai manusia yang lemah dan merasa perlu terus belajar, aku berharap semampu mungkin dapat memanajemen hati dan nafsu ke arah yang baik dan manfaat. Mengingat dengan sadar pesan-pesan bapak tentang kehidupan.

2 Komentar

  1. Sekedar saran, di paragraf 10 baris kedua, di situ dikatakan "rendah diri", mungkin yang dimaksud adalah "rendah hati".

    Sebab, jika rendah diri itu artinya insecure, tapi jika memang yg dimaksud adalah memang rendah diri, tak masalah.

    Tapi, jika yg dimaksud adalah humble, tidak sombong, low profile, maka kata yang tepat adalah " Rendah Hati", sebab, rendah diri artii tidak percaya diri dan insecure

    BalasHapus