![]() |
| (Dokumentasi Pribadi) |
Rumah Sakit adalah lembaga yang termasuk unsur
pelayanan dasar masyarakat dalam memberikan jasa kesehatan. Pemerintah berupaya
memenuhi kebutuhan ini melalui berbagai Rumah Sakit dan Puskesmas yang tersebar
diseluruh daerah.
Pemerintah juga memberikan ruang kepada kelompok
sipil untuk membangun fasilitas kesehatan secara sukarela maupun dalam konteks
usaha. Rumah Sakit maupun Klinik yang dibangun oleh pihak swasta merupakan upaya
pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar yang dilakukan untuk membantu pemerintah.
Rumah Sakit adalah usaha yang bergerak
disektor jasa. Selain keuntungan, salah satu indikator capaian keberhasilan pelayanan
dilihat dari tingkat kepuasan pasien. Dalam berbagai penelitian yang dilakukan
untuk mengetahui hal itu ditentukan lima faktor yaitu, Bukti Fisik (Tangibles),
Kehandalan (Reliability), Kemauan untuk merespon keinginan atau kebutuhan
akan bantuan dari pasien serta pelayanan yang cepat (Responsivenees), Kemauan
petugas untuk menimbulkan rasa percaya dan aman kepada pasien (assurance),
kemauan petugas untuk peduli dan memperhatikan pasien (empathy).
Selain itu juga terdapat beberapa variable
nonmedik yang bisa mempengaruhi kepuasan pasien diantaranya tingkat pendidikan,
latar belakang sosial ekonomi, budaya, lingkungan, fisik, juga dipengaruhi
karakteristik pasien seperti umur, pendidikan, pekerjaan, etnis, sosial,
ekonomi dan diagnosis penyakit.
Dari penelitian yang sudah dilakukan seperti
pada publikasi Jurnal Kedokteran dan
Kesehatan Indonesia yang berjudul Analisa
Faktor Penentu Tingkat Kepuasan Pasien di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul
(Vol. 1, No. 1, 2009) membagi dua penelitian yaitu pasien Rawat Inap dan IGD yang
menunjukan bahwa faktor penentu tingkat kepuasan pasien diurutan pertama adalah
Reliability (Kehandalan). Masing-masing
persentasenya ialah 60% (Rawat Inap) dan 56,7% (IGD).
Kehandalan pada penelitian pasien Rawat Inap
memiliki tiga indikator yaitu 1) Waktu periksa dokter di bangsal sesuai dengan
jadwal 2) Kecepatan perawat menanggapi panggilan bel pasien 3) Kesesuaian
pemberian obat dengan jadwalnya.
Kehandalan pada penelitian pasien IGD juga
memiliki tiga indikator yaitu 1) Kesigapan dokter untuk melakukan pertolongan
pertama di IGD 2) Kecepatan perawat IGD melakukan pelayanan di IGD 3) Kecepatan
pemeriksaan tambahan untuk pasien.
Dari lima faktor tingkat kepuasan pasien Jika
diurutkan dari yang paling penting untuk pasien Rawat Inap adalah Reliability (60%), Assurance (57,03%), Accesibility (55,32%),
Responsiveness (45,9%), Tangible (43,65%) dan Empathy (41,5%).
Sementara tingkat kepuasan pasien untuk IGD diurutkan dari yang paling penting
adalah Reliability (56,7%), Tangible
(55,24%), Responsiveness (53,26%),
Accesibility (52,66%), Assurance (47,8%) dan Empathy (38,35%).
Sementara penelitian pada Journal of Hospital Management (Vol. 4, No. 02, 2021)
berjudul Pengaruh Kualitas Pelayanan
terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit dengan metode Literature Review menempatkan pada urutan pertama yang menyatakan
memiliki pengaruh terhadap kepuasan pasien adalah faktor Tangible (bukti fisik)
sebanyak 23 artikel. Kedua adalah Reliability (kehandalan), Reponsiveness (daya
tanggap) dan Empati (Kepedulian) sebanyak 22 artikel. Ketiga adalah faktor
Assurance (Jaminan) sebanyak 20 artikel.
Kepuasan pasien kepada Rumah Sakit ditentukan
berbagai faktor dan indikator. Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Rumah
Sakit mulai dari Petugas Medis (Dokter dan Perawat) sampai Petugas Non Medis
memiliki peran yang penting dan saling berkaitan untuk menjaga dan merawat
kepuasan pasien. Oleh karena itu saya pikir riset yang profesional terhadap
kepuasan pasien harus dilakukan oleh Rumah Sakit. Hal itu dilakukan secara
berkala dalam kuartal tertentu sehingga manajemen bisa menjadikan hasil riset
sebagai bahan pertimbangan untuk merumuskan suatu kebijakan pelayanan.
Dalam mendukung terciptanya kepuasan pasien
maka setiap unit di Rumah Sakit secara kolektif harus bekerja optimal, benar
dan tanpa hambatan. Termasuk Unit Administrasi yang menjadi Front
Office Rumah Sakit. Ketika pasien datang ke Rumah Sakit untuk melakukan
pengobatan maka yang dicari pertama kali adalah unit Administrasi. Sektor Front
Office ini menjadi titik pelayanan yang mencerminkan wajah dari Rumah
Sakit itu sendiri. Sebagai garis terdepan, sektor ini biasanya ditempati oleh petugas
yang memiliki kualifikasi tertentu.
Unit Administrasi adalah tempat pertama dan
terakhir yang kita datangi untuk melakukan pendaftaran dan penyelesaian
administrasi kepulangan. Secara profesional unit ini terbagi menjadi dua sub
unit yaitu Rawat Jalan dan Rawat Inap.
Untuk memenuhi kepuasan pasien yang datang
melakukan pengobatan maka unit administrasi menjadi gerbang awal untuk
memastikan pasien mendapat kesan pertama yang membahagiakan baginya seperti
misalnya menunjukan wajah dengan senyuman, bersikap ramah-tamah dan mempercepat
prosedur.
Dalam upaya memenuhi kepuasan dan kesan
membahagiakan pasien maka saya pikir ada beberapa hal yang perlu dipelajari oleh
setiap orang yang berprofesi disektor pelayanan Administrasi Rumah Sakit
diantaranya adalah:
1.
Ramah-tamah
Ramah-tamah adalah sikap kekeluargaan yang
harus ditunjukan kepada pasien yang datang agar psikologi mereka semakin dekat
dan merasa nyaman ketika datang pertama kali ke Rumah Sakit. Sikap ini
ditunjukan dengan memberi senyuman sempurna dengan wajah ceria sembari
menanyakan keperluan pengobatannya.
2.
Bersahabat
Bersahabat adalah sikap yang menunjukan tidak
adanya jarak antara pasien dan petugas. Interaksi dilakukan seperti sudah
mengenal satu sama lain. Terutama kepada pasien yang rutin melakukan
pengobatan. Menghafal namanya adalah upaya paling minimal agar pasien merasakan
nuansa pelayanan yang bersahabat. Namun hal ini dilakukan dalam batas-batas
yang normal dan tidak berlebihan. Jika dilakukan secara berlebih, tidak
memperhatikan situasi dan kondisi maka justru pasien akan merasa tidak nyaman.
3.
Responsif
Responsif adalah sikap yang menunjukan
kecepatan dan kepekaan petugas kepada keluhan dan keperluan pengobatan yang
dibutuhkan pasien. Responsif juga termasuk kepada sikap peduli dan tidak masa
bodoh. Karena tidak semua pasien memahami prosedur pelayanan Rumah Sakit.
Sehingga pasien yang awam bisa segera dibantu untuk cepat mendapatkan pelayanan
pengobatan. Hal ini dapat mencegah pengabaian terhadap pasien yang bisa
berakibat buruk terhadap penyakit yang di deritanya.
4.
Antisipatif
Kepuasan pasien menjadi tujuan utama Rumah
Sakit dan standar target yang wajib dipertahankan. Komplain adalah hal yang
harus di hindari dan di minimalisir bahkan sampai mendekati nol kasus. Analisa
akurat terhadap kebutuhan pengobatan atau pembacaan diagnosa medis, pemberian
obat-obatan dan waktu tunggu pengambilan obat menjadi unsur wajib yang harus
di antisipasi.
Kebutuhan pengobatan pasien yang masih bingung
dengan keluhannya apakah harus diperiksa oleh dokter spesialis atau bukan maka
sebaiknya bisa disarankan untuk konsultasi kepada dokter umum dahulu. Apalagi
jika kita adalah petugas non-medis tanpa latar belakang pendidikan kesehatan
sebaiknya jangan gegabah memberikan saran-saran medis. Untuk antisipasi, kita
bisa melakukan kordinasi dengan petugas medis agar membantu menjelaskan dan
memberikan saran kepada pasien.
Terkait pemberian obat dan waktu tunggu, kerap
terjadi stagnasi dalam alur prosesnya disebabkan berbagai hal. Misalnya perubahan
resep obat oleh dokter atau keterangan tulisan dokter yang sulit dibaca (jika
masih menerapkan sistem manual tanpa pendukung Sistem Elektronik Medical Record). Sehingga berpengaruh kepada waktu
tunggu yang semakin bertambah lama. Kejadian seperti ini harus di antisipasi
oleh petugas, misalnya pasien rawat jalan, agar ia segera mendapatkan obat dan
pulang lebih cepat untuk bisa melakukan pemulihan terhadap penyakitnya.
Antisipasi dilakukan dengan koordinasi intens secara berkala kepada unit
terkait. Tahap ini akan sangat berpengaruh terhadap standar pelayanan minimal
terkait waktu tunggu yang ditentukan tidak lebih dari 60 menit (PERMENKES No.
129 Tahun 2008).
5.
Belajar dan Kompeten
Rumah Sakit kini memiliki sistem pelayanan
berbasis digital yang memudahkan petugas untuk menjalankan pekerjaannya. Setiap
Rumah Sakit juga memiliki aplikasi berbeda maka kita harus mempelajarinya
secara maksimal agar proses pelayanan berlangsung efektif dan efisien.
Petugas administrasi Rumah Sakit juga akan
berhadapan dengan banyak produk asuransi baik dari pemerintah maupun swasta.
Setiap produk asuransi memiliki ketentuan yang berbeda. Sehingga petugas harus
memahami ketentuan prosedur yang dimiliki setiap asuransi dengan cara terus
belajar.
Motivasi untuk selalu belajar tentang
pengetahuan dasar kesehatan, sistem pelayanan yang digunakan oleh Rumah Sakit
dan berbagai produk asuransi pada akhirnya bisa membentuk pribadi petugas yang
kompeten dan mampu memberikan pelayanan optimal kepada pasien.
6.
Manajemen Emosional
Sektor front office yang bertugas memberikan
pelayanan kepada pasien akan bertemu dengan beragam karakter. Terkadang datang
pasien dengan perilaku dan sikap yang kurang koperatif dan sensitif yang mungkin disebabkan oleh kondisi kesehatan yang sedang di deritanya. Dalam menghadapi keadaan itu, petugas harus mampu mengendalikan emosi
dalam jiwanya untuk tetap berusaha tenang dan fokus pada pokok persoalan yang
sedang dibicarakan oleh pasien.
Hal ini pada praktiknya membutuhkan jam
terbang yang banyak dengan evaluasi berkala. Latihan mengendalikan emosi akan
berbenturan dengan mental. Apalagi jika kita sebenarnya mengetahui bahwa
penyebab komplain pasien adalah dari unit lain. Keadaan itu akan semakin
membuat psikologi menjadi kontradiktif. Di satu sisi bukan kesalahan kita.
Namun di sisi lain ada nama baik perusahaan yang harus dijaga.
Menurut saya, proses seperti ini secara tidak
langsung akan menyebabkan setidaknya dua hal. Bagi mental yang kuat akan membangun
pribadi yang semakin profesional. Namun bagi mental yang masih lemah akan membuatnya
depresi dan stres.
Oleh karena itu melakukan perjalanan untuk
berlibur, traveling, berkemah di pantai atau ditempat dengan pemandangan hijau
hutan, bahkan meditasi seharian dirumah bisa dilakukan untuk pemulihan jiwa
yang sudah mengalami berbagai tekanan saat bekerja
Semuanya memang butuh proses dan latihan. Jika
kita sudah bisa melewati proses dengan optimal maka pengendalian jiwa bukan
hanya untuk bekerja tapi untuk menjalani kehidupan di dunia.
7.
Manajemen Konflik
Sekali waktu pasti akan hadir suatu konflik
ketika bekerja. Saat komplain pasien semakin mengarah kepada situasi yang rumit
dan membuat keadaan tidak kondusif. Maka kemampuan untuk mengendalikan keadaan
harus kita lakukan.
Kemampuan manajemen konflik akan sangat
bergantung kepada ketenangan yang sebelumnya kita pelajari dalam manajemen
emosional.
Keruhnya keadaan jangan sampai mempengaruhi
jiwa. Jiwa yang tenang bisa membantu pikiran untuk berupaya mencari solusi dan
langkah-langkah yang harus dilakukan. Dalam keadaan itu penting sekali secara
intens melakukan komunikasi dan kordinasi kepada atasan yang bertanggung jawab
untuk problem yang sedang dihadapi.
8.
Multipel Kerja
Keadaan multipel kerja terjadi ketika pasien
membeludak karena kondisi tertentu. Rumah Sakit akan menghadapi banyak pasien
yang hendak melakukan pengobatan.
Keadaan yang harus dihindari adalah terjadinya
antrian yang panjang dan memakan waktu karena pasien ingin pelayanan yang cepat misalnya dalam kasus rawat jalan.
Dengan kondisi yang tidak dapat diprediksi,
petugas administrasi diharap mampu untuk meminimalisir rumitnya prosedur
terutama pasien asuransi. Tentunya jam terbang yang banyak akan sangat membantu
petugas untuk dapat bekerja dengan cepat. Meskipun sebenarnya prosedur asuransi
sedemikian rumit dan melelahkan dengan sistem provider berbeda satu dengan yang
lain.
Namun kemampuan untuk menyelesaikan minimal
tiga validasi (keterangan hasil pemeriksaan dan resep obat untuk pasien)
menjadi keharusan dalam kondisi ini. Disamping itu, fokus, konsentrasi dan
ketenangan harus tetap terjaga agar tidak menimbulkan kesalahan kerja.
Namun jika keadaan ramainya pasien yang
berobat terus berlangsung dalam kurun waktu yang konstan maka solusinya bukan
lagi kemampuan multipel kerja petugas, melainkan perusahaan harus merekrut karyawan baru
untuk membantu kinerja unit agar bekerja secara optimal.
9.
Ketahanan
Ketahanan yang dimaksud adalah kemampuan
fisik, jiwa dan pikiran yang bisa kuat menghadapi berbagai keadaan.
Tekanan kerja pelayanan akan berhadapan dengan
tuntutan pasien yang ingin diberikan jasa cepat. Belum lagi jika terjadi
stagnasi proses di unit lain. Keadaan yang kompleks itu menjadi proses latihan
membentuk ketahanan diri.
Jika keadaan sulit, kacau dan keruh mampu kita
lewati dengan baik, mampu mengendalikan konflik, terus berusaha belajar
memperbaiki profesionalitas pribadi maka ketahanan itu bisa terbentuk.
10. Bekerja
adalah Ibadah
Dalam kaidah Fiqih ada yang disebut dengan
Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat dan rahasia yang dimaksudkan oleh Allah
dalam setiap hukum dari keseluruhan hukumnya).
Terdapat lima hal yang menjadi dasar dari
penetapan sebuah hukum yakni untuk menjaga Agama (al-Din), Jiwa (al-Nafs), Akal
(al-Aql), Harta (al-Mal) dan Keturunan (al-Nasl).
Dalam konteks bekerja hendaklah senantiasa
kita niatkan untuk beribadah kepada Allah. Dengan bekerja kita dapat menyambung
hidup dan menjaga terpenuhinya kebutuhan sehari-hari. Sehingga jiwa kita
terjaga dan terawat untuk kelangsungan hidupnya di dunia. Maka oleh sebab itu
bekerja adalah wajib bagi orang dewasa apalagi jika sudah berumah-tangga. Selain
jiwa pribadi, ada istri dan anak-anak yang wajib diberi nafkah.
Firman Allah Swt kepada umat-Nya untuk bekerja
termaktub dalam Q.S at-Taubah (9:105).
“Dan
katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga
rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
yang maha mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu
apa yang telah kamu kerjakan”.
Q.S at-Taubah (9:105). Menjelaskan bahwa Allah
Swt memerintahkan kepada kita untuk semangat dalam melakukan amal saleh
sebanyak-banyaknya. Allah Swt akan melihat dan menilai amal-amal tersebut. Pada
akhirnya seluruh manusia akan dikembalikan kepada Allah Swt dengan membawa amal
perbuatannya masing-masing. Mereka yang baik akan diberi pahala atas
perbuatannya itu. Mereka yang berbuat jahat akan diberi siksaan atas perbuatan
yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.
Oleh karena itu hendaklah bekerja diniatkan juga
untuk akhirat. Berusaha melakukan yang terbaik dalam bekerja, memberi salam,
senyum dan sapa kepada pasien. Melayaninya dengan lemah lembut dan mendoakannya
lekas sehat.
Jika apa yang sudah kita lakukan dibalas
dengan sikap yang angkuh, sombong dan amoral oleh pasien, sebisa mungkin
beristighfar agar Allah Swt menenangkan jiwa kita yang sedang terbakar nafsu
amarah. Kita semua memahami bahwa setiap perbuatan akan mendapat balasan.
Unduh PDF : Peran Front Office Rumah Sakit dalam Merawat Kepuasan Pasien

0 Komentar