Mengenali Jiwa Berdasar Tempramen

Sumber: Pixabay oleh Geralt


Membahas psikologi ialah menganalisa tentang jiwa. Perkembangan pengetahuan tentang psikologi telah berlangsung sejak masa para tokoh filsafat yunani kuno hingga sekarang. Mempelajari pengetahuan psikologi menjadi menarik bukan karena bisa memprediksi tempramen dan karakter seseorang. Melainkan lebih utama ialah mengenali psikologi diri sendiri. Immanuel Kant membedakan anatara tempramen dan karakter bahwa yang pertama adalah corak kepekaan atau perasaan dan yang kedua adalah corak pikiran.

Tipologi atau teori ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang jiwa cukup banyak dikemukakan oleh berbagai ahli. Mulai dari teori yang sederhana berdasar pada pemikiran spekulatif hingga teori yang kompleks berdasar pada pengalaman dan penelitian empiris.

Hippocrates (460-370 SM) yang dipengaruhi oleh Empedokles yang beranggapan bahwa alam semesta beserta isinya terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, udara dan api dengan sifat-sifat yang didukungnya, kering, basah, dingin dan panas. Maka Hippocrates berpikir secara analogis bahwa dalam diri manusia terdapat empat macam sifat tersebut yang didukung oleh keadaan konstitusional berupa cairan-cairan yang ada dalam tubuh.

Sifat kering terdapat dalam Chole (Empedu Kuning). Sifat basah terdapat dalam Melanchole (Empedu Hitam). Sifat dingin terdapat dalam Phlegma (Lendir). Sifat panas terdapat dalam sanguis (Darah).

Keempat cairan dalam tubuh itu ada pada proporsi tertentu. Apabila cairan tersebut adanya dalam tubuh dalam proporsi yang selaras (normal) maka orangnya sehat. Sebaliknya jika keselarasan proporsi cairan dalam tubuh itu terganggu maka orangnya tidak normal atau sakit. Pada perkembangannya, pemikiran Hippocrates akan berpengaruh dan menjadi inspirasi bagi tokoh pemikir psikologi berikutnya. Dimana istilah tipe kepribadian seperti Choleris, Melancholis, Phlegmatis & Sanguinis adalah istilah yang berkembang dari pemikiran Hippocrates meskipun deskripsi dari tipe itu nantinya memiliki perbedaan pengertian sesuai tokoh yang mengemukakannya.

Dalam kesempatan yang singkat ini, penulis hanya menerangkan satu tipologi dari banyaknya tipologi tentang psikologi kepribadian dari tiga tokoh yakni tipologi berdasar tempramen. Tentang istilah tempramen itu sendiri belum ada kesepakatan diantara para ahli mengani isinya. Berikut beberapa pendapat yang dikemukakan :

1.      Galenus : Tempramen adalah sifat-sifat kejiwaan yang ditentukan oleh campuran atau komposisi cairan-cairan dalam tubuh.

2.      Kretschmer : Tempramen adalah bagian dari kejiwaan yang dengan melalui darah secara kimiawi mempunyai korelasi dengan aspek jasmaniah.

3.      Kohnstamm : Tempramen adalah aku rohani yang bersangkutan dengan konstitusi jasmani dan dibawa sejak lahir.

Ketiga pendapat diatas memiliki perumusan yang berlainan. Namun dapat dicari titik kesamaanya bahwa tempramen itu adalah aspek kejiwaan daripada kepribadian yang dipengaruhi oleh konstitusi jasmaniah yang dibawa sejak lahir, itu sebabnya sulit dirubah oleh pengaruh dari luar.

Tipologi Plato

Bukan saja tentang filsafat, Plato juga membicarakan tentang psikologi. Walaupun mungkin dalam taraf mula-mula dan sederhana, ia menjelaskan bahwa jiwa itu dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:

1.      Pikiran (logos) yang berkedudukan di kepala.

2.      Kemauan (thumos) yang berkedudukan di dada.

3.      Hasrat (epithumid) yang berkedudukan di perut.

Dalam hubungannya dengan ketiga hal diatas, Plato mengemukakan adanya tiga kebajikan yaitu, kebijaksanaan, keberanian & penguasaan diri. Keselarasan antara ketiga hal itu akan mewujudkan kebenaran dan keadilan.

Ketika jiwa kita dapat memanajemen ketiga aspek yang menyusun jiwa itu dengan baik maka akan mewujudkan sikap yang benar dan bijak. Ketika misalnya dalam kondisi dan keadaan menyaksikan seorang pengemis tua renta datang menghampiri dengan tangan kusamnya yang mengulur. Sementara saat itu isi dompet sedang menipis, tentu berapapun uang yang keluar akan sangat berharga untuk kebutuhan pribadi.

Pikiran (Kepala) akan mempertimbangkan keadaan yang disampaikan oleh hasrat (Perut). Sementara kemauan (Dada) dalam posisinya sedang bersiap untuk berani atau mundur. Mungkin dalam keadaan ekonomi yang stabil, kita akan dapat dengan mudah mengambil keputusan dalam kondisi itu. Namun jika yang terjadi adalah kondisi seperti diatas maka ujian dari tiga aspek penyusun jiwa itu benar-benar mengalami tantangan yang luar biasa.

Jika output keputusannya ialah tetap membantu dengan memberi uang semampu yang kita miliki dalam kondisi itu, maka bisa dilihat jika pikiran sudah berupaya bijaksana, kemauan memilih keberanian dan hasrat telah berhasil dikuasai.

Tipologi Immanuel Kant

Tempramen menurut Immanuel Kant dianggap sebagai corak kepekaan sedangkan karakter dianggap sebagai corak pikiran. Terdapat dua aspek yang terkandung dalam tempramen yaitu aspek fisiologis dan aspek psikologis.

Aspek fisiologis adalah kontstitusi tubuh, komplek atau susunan cairan-cairan jasmaniah. Aspek psikologis adalah kecenderungan-kecenderungan kejiwaan yang disebabkan oleh komposisi darah. Selanjutnya, aspek psikologis itu terdiri dari dua macam tempramen yaitu tempramen kegiatan (choleris & phlegmatis) serta tempramen perasaan (sanguinis & melancholis). Immanuel kant selanjutnya menjelaskan empat tipe dari tempramen.

1.      Tempramen choleris

Sifat-sifat dari tempramen ini ialah lekas terbakar tetapi juga lekas padam atau tenang tanpa membenci. Tindakan-tindakannya cepat tapi tidak konstan. Selalu sibuk, tapi dalam kesibukannya itu dia lebih suka memerintah daripada melakukannya sendiri. Nafsunya yang utama ialah mengejar kehormatan, suka sibuk dimata orang banyak dan suka dipuji secara terang-terangan. Suka pada sikap semu dan formal. Suka bermurah hati dan melindungi, tetapi hal ini dilakukannya bukan karena dia sayang kepada orang lain, melainkan karena sayang kepada diri sendiri, sebab dengan berbuat demikian itu dia akan mendapat penghargaan.

2.      Tempramen phlegmatis

Tipe orang phlegmatis cenderung kurang memiliki kepekaan. Alasan yang kuat tidak cukup merangsangnya untuk bertindak. Ketidak pekaan ini menyebabkan adanya kecenderungan ke arah kejemuan dan mengantuk. Sebaliknya, phlegmatis sebagai kekuatan merupakan sifat yang tidak mudah bergerak tetapi kalau sudah bergerak memiliki daya tahan yang lama. Sifat khas dari tipe ini ialah lambat menjadi panas tetapi jika sudah panas durasinya akan lama. Tidak mudah marah. Darah yang dingin tidak pernah dirisaukannya dan cocok untuk tugas-tugas ilmiah.

3.      Tempramen sanguinis

Tipe orang dengan tempramen sanguinis ialah mudah dan kuatnya menerima kesan atau pengaruh kejiwaan tetapi tidak mendalam dan tidak tahan lama. Sifat khas dari tipe ini adalah suasana perasaanya selalu penuh harapan, segala sesuatu dipandangnya penting tapi sebentar kemudian tidak dipikirkannya lagi. Sanguinis sering menjanjikan sesuati tapi jarang untuk menepatinya karena apa yang dijanjikannya itu tidak ia pikirkan secara mendalam. Senang menolong orang lain tapi tidak dapat dipakai sebagai sandaran. Dalam pergaulan peramah dan periang. Umumnya bukan penakut tetapi kalau bersalah sukar bertaubat, dia menyesal tapi sesal itu lekas lenyap. Mengenai soal-soal “zekelijk” (hal baku, sesuai aturan dan pekerjaan) lekas bosan tetapi mengenai game atau hiburan tidak jemu-jemunya.

4.      Tempramen melancholis

Sifat khas dari tipe ini ialah beranggapan bahwa semua hal yang bersangkutan dengan dirinya dipandang penting dan selalu disertai prasangka atau kebimbangan. Perhatiannya terutama tertuju kepada tantangan kesulitannya. Tidak mudah membuat janji karena dia akan selalu berusaha menepati janjinya. Tetapi hal ini dilakukan bukan atas dasar pertimbangan moral melainkan karena jika tidak menepati janji itu akan merisaukan jiwanya. Hal itu juga yang membuatnya kurang percaya dan tidak mudah menerima keramahtamahan orang lain. Suasana perasaan umumnya bertentangan dengan tipe sanguinis, hal ini yang menyebabkan mengurangi kepuasan keadaannya dan kurang dapat melihat kesenangan orang lain.

Tipologi Heymans

Jika tipologi sebelumnya masih bertolak dari penalaran berpikir (spekulatif), berbeda dengan Heymans yang sudah mengalami kemajuan selangkah dengan melakukan penyelidikan terhadap data-data empiris. Heymans menganalisis 110 biografi orang-orang yang berbeda waktu hidup, tempat tinggal dan kebangsaan. Keturunan mengenai 458 keluarga meliputi 2523 orang. Keterangan dari murid-murid sekolah menengah di Nederland sebanyak 3938 orang dan Hasil penelitian Laboratorium. Hasil dari penelitiannya itu kemudian disimpulkan dalam karyanya Inleiding tot de special phsychologie (1948).

Heymans berpendapat bahwa tipe-tipe kepribadian manusia itu bukan main banyaknya. Namun secara garis besar dapat digolongkan. Dasar klasifikasinya ialah tiga macam kualitas kejiawaan, yaitu Emosionalitas, Proses Pengiring & Aktivitas.

1.      Emosionalitas

Mudah atau tidaknya perasaan orang terpengaruh oleh kesan-kesan. Pada dasarnya setiap orang memiliki kecakapan ini tetapi pada taraf yang berbeda-beda sehingga dapat dilakukan dikotomisasi sebagai berikut:

a.      Golongan emosional, emosionalitasnya tinggi. sifatnya impulsive, mudah marah, suka tertawa, perhatian tidak mendalam, tak suka tenggang menenggang, tidak praktis, dalam pendapatnya ada keinginan berkuasa dan dapat dipercaya berkaitan dengan keuangan.

b. Golongan tidak emosional, emosionlitasnya rendah. Sifatnya berhati dingin, baku-formal, berhati-hati dalam menentukan pendapat, praktis, suka tenggang menenggang, jujur dalam batas-batas hukum, pandai menahan nafsu birahi dan memberi kebebasan kepada orang lain.

2.      Proses Pengiring

Banyak sedikitnya pengaruh kesan-kesan terhadap kesadaran setelah kesan-kesan itu tidak ada lagi dalam kesadaran, yaitu:

a.      Golongan proses pengiring kuat, sifatnya tenang, tak lekas putus asa, bijaksana, suka menolong, ingatan baik, dalam berpikir bebas, teliti, konsekuen, dalam politik moderat atau konservatif.

b.      Golongan proses pengiring lemah, sifatnya tidak tenang, lekas putus asa, ingatan kurang baik, tidak hemat, tidak teliti, tidak konsekuen, suka membeo, dalam politik radikal dan egoistis.

3.      Aktivitas

Banyak sedikitnya orang menyatakan diri atau menjelmakan perasaan dan pikirannya dalam tindakan yang spontan, yaitu:

a.      Golongan yang aktif, yaitu golongan yang karena alasan yang lemah saja telah berbuat. Sifatnya suka bergerak, sibuk, riang gembira, dengan kuat menentang penghalang, mudah mengerti, praktis, loba akan uang, pandangan luas, setelah bertengkar lekas mau berdamai, suka tenggang-menenggang.

b.      Golongan yang tidak aktif, yaitu golongan yang walaupun ada alasan yang kuat belum juga mau bertindak. Sifatnya lekas mengalah, lekas putus asa, segala soal dipandang berat, perhatian tak mendalam, tidak praktis, suka membeo, nafsu birahi kerap kali menggelora, boros, segan membuka hati.

Dengan dasar tiga kategori yang terdiri atas dua golongan itu maka Heymans merumuskan 8 tipe kepribadian. Golongan yang emosional dan proses pengiringnya kuat serta yang aktif diberi tanda tambah (+) sedangkan yang sebaliknya diberi tanda kurang (-).


Emosionalitas

Proses pengiring

Aktivitas

Tipe

Sifat

Tanda

Sifat

Tanda

Sifat

Tanda

Emosional

+

Kuat

+

Aktif

+

Orang Hebat

Emosional

+

Kuat

+

Tak Aktif

-

Sentimentil

Emosional

+

Lemah

-

Aktif

+

Choleris

Emosional

+

Lemah

-

Tak Aktif

-

Nerveus

Tak Emosional

-

Kuat

+

Aktif

+

Phlegmatis

Tak Emosional

-

Kuat

+

Tak Aktif

-

Aphatis

Tak Emosional

-

Lemah

-

Aktif

+

Sanguinis

Tak Emosional

-

Lemah

-

Tak Aktif

-

Amorph

 

Berbagai tipologi yang dikemukakan oleh Plato, Immanuel Kant & Heymans senantiasa memiliki penjelasan yang berbeda dalam arti mengalami perkembangan. Seperti yang dikatakan Heymans bahwa tipe kepribadian manusia itu kompleks dan variatif, itu menjadi logis ketika Sigmund Freud mengatakan bahwa ada aspek ketidaksadaran dalam diri manusia yang proporsinya lebih luas dari kesadaran itu sendiri.

Betapapun kajian psikologis kerap terkesan subjektif, tetapi berbagai simpulan yang dikemukakan oleh para tokoh sudah tentu melalui penalaran berpikir yang analitis bahkan dengan dukungan penelitian empiris. Memang sulit untuk memberikan nilai mutlak atau absolut kepada simpulan suatu kajian psikologis, itu karena lapangan penelitian ini berdiri pada area yang menjadi tempat hadirnya multitafsir.

Sementara pada akhirnya kita dapat menarik simpulan sederhana bahwa tempramen itu adalah aspek kejiwaan daripada kepribadian yang dipengaruhi oleh konstitusi jasmaniah yang dibawa sejak lahir, itu sebabnya sulit dirubah oleh pengaruh dari luar.

Jiwa yang menjadi tempat bersemayamnya tempramen terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pikiran (kepala), kemauan (dada) dan hasrat (perut). Pada perkembangan selanjutnya, proses psikologi yang terjadi dari ketiga bagian itu dikemukakan istilah tempramen yang menurut Immanuel Kant disebut sebagai corak kepekaan atau perasaan. Ia membaginya menjadi dua, yaitu tempramen kegiatan (choleris, phlegmatis) dan perasaan (sanguinis, melancholis). Sedangkan Heymans berdasar dari klasifikasi tiga kualitas kejiwaan (Emosionalitas, Proses Pengiring & Aktivitas) berupaya memberi simpulan dengan 8 tipe, yaitu orang hebat, sentimental, choleris, nerveus, phlegmatis, apathis, sanguinis, amorph (tidak berbentuk/jiwa depresi).

Penulis : Iman Musa

Referensi : Psikologi Kepribadian Karya Drs. Sumadi Suryabrata, Ph.D. 

 

0 Komentar