Lima Tokoh dalam Trilogi Brosur Karya Tan Malaka

(Foto/sumber: Pixabay)


Perkembangan masa kebangkitan nasional Indonesia di awal abad ke-20 memunculkan berbagai ide dan gagasan tentang pembentukan negara. Para tokoh perintis kemerdekaan saling merumuskan dan mengusulkan gagasanya tentang itu. Kita dapat mengetahui melalui karya tulis yang mereka tinggalkan sebagai warisan intelektual bangsa Indonesia.

Sederet tokoh pejuang kemerdekaan, yang kelak menjadi Pahlawan Nasional dengan nama besar terukir indah dalam sejarah berdirinya Indonesia. Selain Soekarno dan Mohammad Hatta ialah Tan Malaka.

Tan Malaka yang disebut oleh M. Yamin sebagai Bapak Republik Indonesia, turut memberikan andil besar dalam menyumbang gagasan tentang Negara Merdeka. Melalui penelusuran beberapa karya beliau, kita dapat menemukan betapa jeniusnya Tan Malaka. Terutama pada magnum opusnya yang berjudul "Madilog".

Masih terdapat lagi gagasannya yang lain seperti "Aksi Masa", "Politik", Rencana Ekonomi Berjuang", "Muslihat" dan "Gerpolek". Hal menarik dalam tulisannya tertuang pada tiga karya yang penjelasannya disajikan dengan gaya fiksi melalui dialog lima tokoh.

Penyajian tulisan yang dibingkai dengan dialog itu terdapat dalam karya Tan Malaka berturut-turut mulai dari "Politik", "Rencana Ekonomi Berjuang" dan "Muslihat". Kelima tokoh yang terdapat dalam tulisan beliau diantaranya diberi nama "Mr. Apal", "Denmas", "Toke", "Pacul" dan "Godam". Ternyata Tan Malaka tidak sembarangan menyematkan kelima nama itu. Tepatnya mereka adalah visualisasi keterwakilan dari berbagai golongan.

Pertama Mr. Apal, ia adalah tokoh yang mewakili golongan cendekiawan atau intelektual karena itu namanya "Apal" yang dimaksud ialah "Hafal". Sebab cendekiawan dianggap sebagai orang yang faham dan cakap mengenai berbagai teori dan ilmu pengetahuan. Di dalam dialog perannya pun kerap muncul jika diskusi membicarakan tentang teori.

Kedua Denmas, ia adalah tokoh yang mewakili kaum priyayi atau bangsawan. Denmas adalah akronim dari Raden Mas. Tokoh ini tidak terlalu banyak muncul dalam dialog. Sebagaimana peran yang diberikan oleh Tan Malaka, tokoh Denmas yang berlatar belakang bangsawan digambarkan kerap acuh dalam interaksi dialog.

Ketiga Toke, ia adalah tokoh yang mewakili golongan pengusaha. Nama Toke ternyata bukan merujuk kepada hewan melainkan serapan kata "Taukeh" yang kerap digunakan orang Cina untuk menyebut seorang pengusaha atau majikan.

Keempat Pacul, ia adalah tokoh yang mewakili golongan petani. Pacul adalah kata Jawa yang berarti cangkul. Karena petani lekat dengan alat cangkul, mungkin karena itu Tan Malaka membuat tokoh ini. Pacul akan banyak berbicara, bertanya dan membincangkan berbagai teori bersama Godam.

Kelima Godam, ia adalah tokoh yang mewakili golongan buruh. Nama Godam merujuk kepada palu atau martil. Tokoh ini digambarkan sebagai buruh pabrik industri. Nantinya ia akan berduet diskusi dengan Pacul mengenai idealnya negara merdeka dan strategi politik untuk mencapai tujuan sosialisme dan menghempaskan kapitalisme.

Setelah membaca trilogi brosur Tan Malaka, kita akan mendapati bagaimana piawainya beliau mengemas gagasan dalam sebuah dialog seperti cerita fiksi. Menurut saya cara seperti ini cukup menghibur bagi pembaca untuk memahami pokok pembahasan. Setidaknya dapat melatih otak untuk berpikir kembali memahami isi dan maksud dari pembicaraan tokoh fiksi itu.

Di dalam brosur karya Tan Malaka yang berjudul "Politik", dialog dibuka oleh Pacul dan Toke. Pada pembahasan pertama, para tokoh membincangkan artinya "Merdeka". Tokoh Pacul membuka dialog.

Pacul : "Selamat pagi, apa kabar?

Toke : "Terlampau panjang ini saudara! Sekarang masa perang dan masa berontak, ucapkan yang pendek dan tepat saja, "merdeka" begitu. Pendek, tepat, dimengerti dan membangunkan perasaan bertarung. Ucapan yang panjang tadi asalnya dari terjemahan Belanda. Kalau nanti berbau-bau NICA, tentu engkau dicari buat dibawa ke batalion X.

Pacul : "Memang saya tak tahu yang demikian itu. Tetapi, sudah menjadi kebiasaan saja. Di sekolah rendah dipelajari dan memang selalu diucapkan begitu. Tetapi sekarang, satu dua kali juga saya ucapkan "Merdeka" kalau berjumpa pengawal di jalan-jalan. Tetapi, terus terang saja, saya sendiri juga belum tahu betul artinya "Merdeka" itu.

Toke : Cul, saya pun tak paham betul akan arti perkataan itu. Tetapi, contoh ini bisa memberi penerangan. Engkau lihat itu burung gelatik. Dia bisa terbang ke sana kemari, dari pohon ke pohon mencari makan. Alangkah senang hatinya. Dimana ada makanan, dia berhenti makan sambil menyanyi. Kalau hari senja dia pulang ke sarangnya. Itu namanya merdeka. Tak ada kesusahan. Selalu riang gembira.

Pacul : "Betul, senang kelihatan dari luar. Tetapi, kelihatan dari luar saja. Belum tentu hatinya sang gelatik sendiri selalu senang. Belum tentu pula burung gelatik itu selalu menyenangkan orang lain. Kemerdekaan semacam itu tak begitu memuaskan.

Toke : "Bagaimana tak memuaskan, Cul? Bukankan merdeka seperti burung diudara itu selalu dipuji, selalu diambil sebagai contoh.

Pacul : "Tadi saya bilang, belum tentu hatinya sang Gelatik itu selalu senang. Bung Toke memang orang kota, memang punya perusahaan buat hidup itu sendiri. Tak perlu banyak takut sama ini atau itu. Tetapi, Bung Toke jangan lupa bahwa sang Gelatik selalu diintai musuhnya. Kucing atau berangan ialah musuh besarnya. Burung elang ialah musuh yang paling besar. Sang manusia pun bisa sewaktu-waktu menangkapnya atau menembaknya.

Toke : "Sang Gelatik, toh bisa lari terbang.

Pacul : "Ya, memang dia bisa lari terbang. Cuma kecakapannya hanya diperoleh dari alam itu saja, yang bisa melindungi jiwanya. Tetapi, mana ada adat atas undang-undang masyarakat yang melindunginya? Bahkan, mana masyarakatnya sang Gelatik.

Toke : "Benar juga, Cul. Engkau memang dari desa, yang masih hidup di alam. Memang, di alam itu undang-undang yang berlaku ialah "besar hendak melanda". Tetapi, dalam masyarakat pun begitu juga, bukan?

Pacul : "Memang, masyarakat kita juga belum sempurna. Tetapi, jauh lebih sempurna dari masyarakat burung atau hewan yang lain. Barangkali kita, manusia pun, tak akan sampai kepada masyarakat yang sempurna. Tetapi, kita senantiasa selangkah demi selangkah, bisa menghampiri kesempurnaan.

Toke : "Aku tak sangka kau seorang ahli filsafat, Cul. Rupanya engkau berlaku pura-pura bodoh saja. Tetapi, tunggu dulu! Baik kita kembali ke pokok perkara. Engkau sudah terangkan bahwa sang gelatik belum tentu selalu berhati senang, karena musuh selalu mengintai. Tak ada undang-undang atau adat masyarakat burung yang bisa melindungi masing-masing burung. Tetapi, engkau belum terangkan, bagaimanakah sang gelatik yang hina papa itu bisa tidak menyenangkan orang lain, bisa menggangu orang lain?

Pacul : "Memang, sang gelatik itu hina papa. Tetapi, kalau satu rombongan saja gelatik itu sampai ke sawah kami, maka mereka itu merdeka pula memusnahkan hasil pekerjaan kami. Dari masa meluku sampai masa menanam padi. Dari waktu padi masih hijau kecil sampai kuning matang, kami mengeluarkan jerih payah dan peluh keringat. Sekarang, sesudah jerih payah kami memperlihatkan hasilnya, datanglah rombongan gelatik yang tidak mengeluarkan keringat setetes pun, dan susah gelisah sedikit pun atas hasil pekerjaan kami tadi. Tetapi, dengan tidak meminta izin lebih dahulu, dan tak malu-malu mereka bersuka ria, bersenda gurau di atas padi, memilih buah yang matang dan bernas. Bukankah kemerdekaan itu, kemerdekaan orang tak berusaha, yang merampas hasil pekerjaan orang lain yang mengeluarkan tenaga? Merdeka semacam itu berarti merdeka merampas. Inilah sebenarnya akibatnya kemerdekaan liar itu. Apa guna "merdeka semacam itu dibuat masyarakat manusia.

Toke : "Wah, Cul. Ini gara-gara "Selamat Pagi apa kabar" tadi. Tetapi, memperbincangkan arti "merdeka" itu bukan lagi perdamaian yang aku peroleh dalam hatiku. Memang, semua perkara yang engkau kemukakan tadi, yang berhubungan dengan "kemerdekaan" itu, benar belaka. Sekarang, saya sendiri dalam kekacauan pikiran. Aku sendiri mau tahu pula, apa "merdeka yang sebenarnya.

Pacul : "Marilah kita bertanya kepada mereka yang lebih ahli."

Dialog pada sub ini diakhiri oleh tokoh Pacul. Mereka mendapat kesimpulan sederhana tentang "Merdeka" bahwa itu adalah kehendak bebas terlepas dari penguasaan bangsa atau negara lain. Namun, kehendak bebas itu bukan berarti kebebasan yang serakah. Kemerdekaan Indonesia adalah tidak merebut dan memerangi negara lain akan tetapi mengakui kemerdekaannya.

Selanjutnya tentang cita-cita bangsa serta jaminan keamanan, ketertiban dan kesejahteraan dalam negara. Apakah hal itu ditaruh di tangannya seorang raja atau presiden saja? Beruntung bila pemimpin itu adalah seorang yang bijak dan adil. Tetapi bagaimana jika raja atau pemimpin itu lalim? Maka kemudian muncullah Mr. Apal mengemukakan sebuah teori bahwa jaminan keamanan, ketertiban dan kesejahteraan itu ditaruh di dalam sebuah undang-undang dasar atau konstitusi.

Konstitusi dan undang-undang turunannya lah yang kemudian memerintah negara. Karena undang-undang atau hukum itu lebih tetap dari kemauan subjektif seorang Raja atau Pemimpin.

Sampai disini dapat dipahami pikiran Tan Malaka, tentang merdeka dan dasar berdirinya suatu negara. Kemerdekaan itu ialah kehendak bebas dari penindasan oleh suatu bangsa. Namun kehendak bebas itu bukan keserakahan untuk tidak mengakui hak dan kebebasan bangsa lain. Sebuah negara merdeka harus pula mengakui kemerdekaan negara lain serta tidak melakukan penindasan untuk menjajahnya. Sementara dasar negara untuk menggapai tujuan bangsa serta menjamin keamanan, ketertiban dan kesejahteraan maka dibuat suatu undang-undang dasar atau konstitusi untuk mengatur dan mengarahkan segala pembangunan sesuai dengan hukum dan konstitusi negara.

Di olah dari berbagai sumber.

2 Komentar

  1. Niceeeee... Rindu sekali dengan tulisan progresifnya iman

    BalasHapus
  2. Siap abangda. Jadi rindu makan di teras rumah bang Imam

    BalasHapus