HOS Tjokroaminoto : Islam dapat mencapai Sosialisme

(Ilustrasi, Sumber : pixabay)

Persaingan ideologi dunia sudah berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Awal abad XX Tjokroaminoto mengemukakan gagasan Sosialisme Islam sebagai upaya melawan Sosialisme Barat (Lahir abad XVIII & XIX Masehi) yang pada saat itu menyerang pemikiran kaum pergerakan Nasionalis Indonesia, terutama golongan pemuda. Meskipun pada akhirnya Sarekat Islam yang dipimpin Tjokro harus terbelah menjadi dua kubu antara Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah akibat dari masuknya berbagai ideologi barat. Padahal Tjokroaminoto menghendaki persatuan bukan perpecahan diantara umat Islam sebagaimana dahulu Nabi Muhammad Saw mempersatukan Muhajirin dan Anshor. Namun karena dinamika politik, maka dengan berat hati perpecahan itu harus terjadi. Sampai kemudian kemerdekaan menginjak usia 79 tahun, umat Islam Indonesia justru semakin terurai bahkan yang dahulunya kita memiliki satu partai politik Islam (Partai Masyumi), kini telah terbagi menjadi beberapa partai.

Tjokroaminoto menulis dalam buku Sosialisme Islam bahwa keberhasilan untuk mencapai Sosialisme dalam Islam bisa dilakukan karena agama yang di risalahkan kepada Nabi Muhammad ini memiliki prinsip yang mendukung untuk mencapai tujuan Sosialisme itu sendiri.

Secara definitif, sosialisme adalah sistem ekonomi-sosial yang ditandai dengan kepemilikan sosial atas alat-alat produksi dan manajemen mandiri pekerja. Pemahaman tentang Sosialisme Barat yang bertumpu pada fislafat materialisme menyebutkan bahwa alat produksi harus dimiliki secara kolektif untuk menghindari terjadinya ketimpangan sosial di masyarakat. Karena ketimpangan sosial itu terjadi akibat modal dipegang oleh kelompok kecil. Modal bukan yang sifatnya uang saja tetapi juga alat, mesin dan fasilitas yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa.  Menurut faham sosialisme, karena modal memiliki daya tawar sedangkan pekerja tidak, maka muncul ekses dimana kelompok kecil pemegang modal kerap bersikap tidak adil kepada pekerjanya. Oleh karena itu sosialisme memandang bahwa kepemilikan “modal” secara individu atau kelompok kecil sebagai penyebab dari terjadinya ketimpangan sosial. Pada akhirnya sosialisme berkesimpulan bahwa “modal” harus dimiliki secara kolektif dalam artian dimiliki dan diatur oleh negara.

Islam sejak penyebarannya dibawakan oleh Nabi Muhammad Saw sudah lebih awal memperjuangkan kesetaraan sosial. Islam tidak membedakan atau membuat kategorisasi tingkatan status sosial manusia. Dalam pandangan Islam, semua manusia adalah sama derajatnya kecuali ketaqwaan mereka di hadapan Allah Swt. Jadi, cita-cita untuk mencapai masyarakat sosialis dengan hilangnya kesenjangan dan ketimpangan sosial adalah salah satu tujuan dari Islam.

Menumbuhkan Kesadaran Individu

Tjokroaminoto menuturkan bahwa ketika Nabi Muhammad Saw memulai perjuangannya menyebarkan Islam, pertama yang Nabi lakukan ialah menumbuhkan kesadaran individu untuk memperbaiki akhlak. Meniadakan sifat individualistik yang hanya mementingkan pribadi tanpa memperdulikan orang lain. Meniadakan sifat individu berimplikasi untuk menumbuhkan sifat kolektif (rasa gotong royong). Sehingga muaranya bertemu dengan sikap saling membantu dan menjauhi keserakahan untuk mengumpulkan harta kekayaan.

Islam menghendaki umatnya agar memiliki rasa kebersamaan dan persaudaraan. Merasakan dan empati terhadap sakit yang diderita oleh saudara, tetangga maupun yang jauh jaraknya. Menyadari bahwa kekayaan harta yang dimiliki adalah pemberian Allah Swt maka sebagian dari harta itu hendaknya diberikan kepada saudara kita yang membutuhkan.

Perjuangan Nabi Muhammad Saw menyampaikan risalah kepada umat manusia tidak pernah membedakan mereka dengan harta, jabatan dan keilmuannya. Nabi senantiasa memandang manusia dengan santun dan lembut secara egaliter.

Dasar Sosialisme Islam adalah Agama

Ketika sosialisme barat bersandar dan bertolak dari filsafat materialisme yang hanya berdimensi kebendaan. Jauh sebelum sosialisme barat muncul (XVIII M), Islam telah menjalankan praktik Sosialisme sejati yang berpedoman kepada Tauhid (VII M). Dimensi yang jauh menembus sekat kebendaan duniawi.

Jika umat Islam telah mencapai fase kesadaran berislam yang tinggi, fenomena kelas dimasyarakat niscaya akan berkurang bahkan bisa terhapus sehingga kesetaraan dan keseimbangan ekonomi terwujud dalam masyarakat. Karena Islam memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa berzakat. Mengeluarkan sebagian harta yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan.

Perintah zakat itu salah satunya tertuang dalam al-Qur’an surat At Taubah ; “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At Taubah [9]:71)

Dalam Fiqh Zakat disebutkan terdapat 8 golongan penerima zakat (Mustahiq). Kepada merekalah zakat diberikan ; “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [9]: 60).

Sementara ketentuan untuk mengeluarkan zakat terdiri dari lima syarat diantaranya ; pertama ialah beragama Islam, kedua merdeka, ketiga kepemilikan yang sempurna (harta dalam kekuasaan pribadi sepenuhnya), keempat nisab (sudah masuk kadar atau ukuran suatu harta wajib di zakati), kelima haul (harta yang sudah mencapai satu tahun).

Perintah dan anjuran dalam agama Islam terkait zakat tertuang diberbagai sumber hukum baik Al-Qur’an maupun Hadis. Bahkan Rukun Islam yang menjadi pondasi mendasar mencantumkan perintah zakat setelah Syahadat dan Shalat. Jadi, seperti yang dijelaskan pada paragraf awal pembahasan kedua ini bahwa jika umat Islam sudah mencapai fase kesadaran berislam yang tinggi, fenomena kelas dimasyarakat niscaya akan berkurang bahkan bisa terhapus sehingga kesetaraan dan keseimbangan ekonomi terwujud dalam masyarakat.

Sikap Kebangsaan Universal

Persaudaraan, Kebersamaan dan Gotong Royong yang dianjurkan Islam kepada manusia sesungguhnya bersifat universal. Islam menembus sekat-sekat etnis, warna kulit, bahasa dan wilayah karena bagi agama Islam dimanapun berpijak seorang yang mengucap syahadat maka saudaranya di ujung manapun di dunia ini adalah satu kesatuan yang terhubung. Sehingga kebahagiaan dan kesedihan yang di derita satu sama lain menjadi pertanggungan bersama.

Jika yang nun jauh disana adalah juga saudara maka yang dekat dengan aktifitas kita setiap hari seperti tetangga lebih lagi menjadi yang paling wajib diberikan pertolongan jika ia dalam kesulitan dan ikut bergembira jika ia dalam kebahagiaan.

Tjokroaminoto menyebutkan bahwa Sosialisme Islam mudah ditanam dan dilakukan karena sikap kebangsaan orang Islam yang universal ; “Dimana-mana di lingkungan orang Islam tinggal, bagaimanapun jauhnya dari negeri kelahirannya, di dalam negeri yang baru itu ia masih menjadi satu bagian dari masyarakat Islam. Dimana-mana di lingkungan orang Islam tinggal, disitulah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya. Nasionalisme yang semacam ini ialah Nasionalisme Islam yang menjadi dasar sosialisme yang tersiar di seluruh muka bumi.”

Selanjutnya dalam Hadis Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dikatakan ; “Seorang muslim bersaudara dengan muslim lainnya. Dia tidak menganiaya tidak pula menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi pula kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan seorang muslim suatu kesulitan, Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan pula dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di hari kemudian. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kemudian.

Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan tentang keterangan bahwa sesama umat Islam adalah bersaudara salah satunya (QS. Al-Hujurat [49]: 10) “Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu lakukanlah ishlah di antara kedua saudaramu.”

Demikian Islam memerintahkan kepada umatnya untuk mencapai sosialisme. Meniadakan sifat individualistik dan menumbuhkan sifat kolektif serta gotong royong dalam kebersamaan. Saling membantu sesama manusia dan mengeluarkan sebagian harta untuk zakat, infaq dan sedekah. Meneguhkan sikap kebangsaan universal yang sudah diwasiatkan oleh Nabi Muhammad Saw sejak 15 abad yang lalu. Niscaya jika kesadaran individu telah mencapai fase yang mapan, dan konsistensi perjuangan serta pergerakan politik Islam semakin progresif bersatu, niscaya Sosialisme Islam bisa terwujud.

Penulis :

Iman Musa

(Kepala Bidang Kajian Strategis dan Advokasi Socialedu Center). 

Referensi :

Islam dan Sosialisme : HOS. Tjokroaminoto

0 Komentar