Manusia : Sebuah Kontradiksi Peran Makhluk

 

(Ilustrasi/sumber: pixabay)

Dalam beberapa kesempatan saya sering kali menyaksikan fenomena perilaku tidak wajar dan aneh yang terjadi pada diri manusia. Mungkin secara tidak sadar pernah terjadi pada diriku sendiri. Seorang manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Ia diberikan akal dan pikiran serta hawa nafsu dalam penciptaannya untuk menjalani kehidupan. Mengenai akal, Allah berfirman dalam Al-Qur’an agar manusia senantiasa untuk mempergunakan akalnya dalam kehidupan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati(kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Q.S Al-Baqarah [2]:164)

Syafiin Mansur dalam bukunya yang berjudul Studi Agama Islam menerangkan sebagaimana dia mengutip dari cendekiawan islam terkemuka Muhamad Rasyid Ridha bahwa ”Barang siapa yang memperhatikan dengan cermat ayat-ayat Al-Qur’an pasti akan mengetahui bahwa pemeluk agama islam adalah ahli menimbang, ahli berfikir, ahli memfungsikan akal dan ahli memahami serta menghayati. Orang yang melalaikan dan tidak menggunakan akal sebagaimana mestinya hidupnya tak ubah binatang ternak, tidak memperoleh bagian sedikit pun dari agama, tidak bisa mensucikan jiwa dan tidak mampu mecerdaskan akal sehingga tidak akan bisa naik kepada tingkatan kesempurnaan dan mengenal Tuhan yang Maha Agung”.  Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bagaimana manusia di anugerahi akal oleh Allah Swt untuk memperhatikan, mengamati dan memahami kehidupannya. Allah menempatkan akal bagi manusia pada posisi yang penting yakni sebagai instrumen untuk memahami alam raya sebagai ciptaan-Nya serta persoalan atau fenomena lain yang akan muncul dalam kehidupan.

Namun, yang sangat mengejutkan adalah ketika seorang manusia berperilaku seakan dia adalah Tuhan. Akal yang diberikan Tuhan kepadanya seakan tidak berfungsi. Manusia menjadikan dirinya nilai kebenaran yang mutlak sekaligus menjelma sebagai hakim yang mulia. Seakan dialah yang berhak memutus nasib seseorang. Surga dan neraka menjadi dua entitas kehidupan akhir di alam akhirat sebagai balasan bagi mereka yang baik dan jahat, keputusannya di tetapkan oleh si manusia aneh. Padahal Rasulullah Muhammad Saw sekalipun ketika di perlakukan buruk oleh orang-orang taif, beliau tidak pernah membalas dengan keburukan atau mendoakannya masuk neraka. Rasulullah tidak menginginkan tawaran malaikat agar diizinkan untuk mengangkat gunung-gunung di sekitar lalu di timpakan kepada mereka yang dzalim. Duduk di bawah pohon rindang dengan kepala bercucuran darah sembari mendoakan kebaikan kepada yang mendzaliminya menjadi pilihan bagi beliau. Kisah-kisah kedzaliman berbalas kasih dan cinta Rasulullah bukan itu saja. Sementara dari kisah seperti itu kita bisa memahami bahwa api yang menyala bukan untuk dibesarkan dengan menyiram bensin ke atasnya melainkan dengan pelukan air yang jernih dan sejuk . Air itu adalah do’a kebaikan. Namun bukan berarti setiap persoalan dan masalah hanya bisa di sikapi dengan do’a. Ada batasan-batasan dimana kita harus melakukan tindakan.

Situasi Politik

Politik berkedok agama adalah tempat tersubur perilaku itu tumbuh. Dalam hal ini, saya fikir agama apapun bisa dijadikan alat oleh manusia aneh. Oknum politik menggunakan agama sebagai alat baginya untuk memberikan citra positif dan seakan benar-benar membawa misi keilahian. Padahal, ia hanya memperdaya publik untuk mendapatkan simpati dan suaranya. Disisi lain kita harus ingat bahwa perilaku politis seperti itu tidak bisa digeneralisir. Sebab mungkin ada sekelompok atau golongan politik dengan semangat murni dan nurani yang bersih membawa nilai-nilai keagamaannya. Namun, saya melihat ada persoalan yang muncul dari kalangan orang yang mungkin baru bergabung dengan kelompok demikian. Seorang “baru” dengan semangat perjuangan yang sedang naik di tambah proses berfikir dan pemahaman yang masih sangat muda, membuat dirinya terperangkap di atas mercusuar tertinggi hingga akhirnya dia merasa diri paling benar, “Saya tertinggi, yang lain berada dibawah”.

Disini saya menemukan dua manusia aneh dalam dua konteks yang berbeda. Pertama, manusia dengan kesadaran. Kedua, manusia tanpa kesadaran. Subjek pertama memliki kesadaran dengan apa yang sedang atau telah dilakukannya. Manusia seperti ini tidak lain dimotivasi oleh kecintaannya pada materi. Hal itu di dukung sendiri melalui tindakan yang berani memperalat agama untuk kepentingan pribadi. Subjek kedua tidak memiliki kesadaran dengan tindakan yang dilakukan. Melihat mereka dengan perilakunya yang mengambil peran Tuhan dapat kita saksikan pada situasi politik yang sedang berlangsung seperti Pemilihan Umum. Pada situasi itu kita bisa melihat jelas bagaimana manusia-manusia aneh membuat fatwa-fatwa mengerikan terhadap lawan politiknya. Perang gagasan dan kampanye janji-janji politik adalah sedikit dari dinamika persaingan. Puncak terburuk adalah ketika mereka mengeluarkan kata-kata haram, neraka jahanam, azab, dll untuk di tujukan kepada pesaingnya. Lebih jelas misalnya mereka melontarkan kalimat “Jutaan rakyat Indonesia telah kalian tipu dan dzalimi. NERAKA JAHANAM pantas untuk kalian”.  Saya berfikir, apakah kalimat itu adalah termasuk ranah kewenangan manusia? Baiklah, disini bukan berarti saya melarang karena bersuara dan menyatakan pendapat merupakan hak setiap orang. Konstitusi negara kita memberikan jaminannya. Namun ingat, konsekuensi dari pendapat itu menjadi tanggung jawab masing-masing. Apalagi dalam konteks ini subjek seakan menjadi Tuhan. Nasib-nasib orang yang menjadi pesaingnya sekali lagi seakan berada di tangannya. Seburuk apapun tindakan, kita tidak akan mengetahui pasti balasan akhirat yang diberikan oleh Tuhan. Hal itu adalah kekuasaan, kewenangan dan tugas-Nya. Bukan peran milik manusia. Orang berjudi, pemabuk, pelacur dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa mereka di alam akhirat bisa mendapat siksa. Namun bukan berarti kita dengan mudahnya menuduh mereka pantas untuk di neraka atau neraka jahanam. Putusan perihal nasib orang-orang itu di akhirat adalah ketentuan Tuhan.

Kalimat-kalimat penghakiman manusia kepada manusia lainnya tentang nasib di alam akhirat yang di terangkan di atas bisa muncul karena kesadaran atau ketidak sadaran. Mungkin ada oknum yang benar-benar secara picik melakukan itu kepada lawannya namun ada pula yang hanya disebabkan akibat pengaruh dari oknum dan ketidaktahuannya sendiri.

Perkembangan Kelompok Keagamaan

Agama menjadi pedoman kehidupan sesudah manusia meninggalkan tradisi kepercayaan nenek moyang. Di dunia menyebar berbagai paham keagamaan mulai dari Kristen, Yahudi, Islam, Hindu, Budha dan Konghucu serta agama kepercayaan lainnya. Dalam perjalanan waktu, seluruh agama-agama itu mengalami sebuah proses perkembangan, perdebatan dan dinamika pemikiran. Hal tersebut menyebabkan lahirnya aliran/kelompok keagamaan dalam satu kepercayaan. Berbagai kelompok itu lahir dari ketiga proses yang di alami oleh sebuah agama ketika perjalanannya melintasi waktu. Dalam hal ini saya sebagai seorang muslim mempelajari dan mengamati bagaimana agama islam mengalamai hal itu.

Islam adalah salah satu agama samawi. Ketika pertama kali Rasulullah Muhamad Saw memulai dakwahnya secara sembunyi kemudian terbuka hingga terus berlanjut sampai sekarang, islam telah mengalami proses panjang perkembangannya sehingga memunculkan berbagai aliran/kelompok. Bermacam kelompok lahir dengan karakteristik dan perbedaanya masing-masing dalam hal-hal cabang keagamaan. Kemunculan berbagai kelompok seperti ini merupakan proses dari interaksi pemikiran yang bisa kita analogikan dengan Tesa-Antitesa-Sintesa dan akan terus berkembang. Itu adalah sebuah proses dialektika pemikiran. Pemikiran pertama memperkenalkan gagasan lalu pemikiran kedua menolak pemikiran pertama berdasarkan dalil dan sumber pengetahuannya. Setelah pergulatan kedua pemikiran tersebut muncul pemikiran ketiga hasil dari inventarisasi dan pengkajian pemikiran-pemikiran sebelumnya. Dengan ciri khas moderat atau kombinasi.

Persoalan muncul ketika suatu kelompok merasa dirinya paling benar. Menegasikan kelompok lain lalu menghakiminya. Saya sebut sebagai kelompok aneh. Menyekat surga hanya untuk kalangan mereka. Seperti biasa yang dilakukan oleh manusia aneh pada situasi politik, kelompok ini juga melakukan penghakiman kepada subjek yang dia jadikan lawan. Kata-kata sesat dapat kita saksikan. Pada beberapa perdebatan terkait cabang keagamaan (bukan soal akidah) sering kali menimbulkan sikap menghakimi seakan dirinya Tuhan. Umpamanya dalam persoalan tradisi masyarakat muslim nusantara seperti riungan atau tahlilan untuk doa bersama. Biasa dilakukan ketika seorang anggota keluarga atau tetangga meninggal dunia untuk mendoakan keselamatan baginya dan ada juga tradisi ziarah kubur. Ini adalah persoalan cabang agama. Sering kali beberapa kelompok mengkritik tradisi itu dengan dalihnya bahwa hal tersebut adalah bid’ah. Mereka memberikan fatwa sesat kepada orang-orang yang melakukannya. Bedanya penghakiman pada situasi politik dengan penghakiman yang dikatakan kelompok tertentu dalam persoalan agama adalah dalil-dalil yang digunakan oleh mereka untuk mendukung fatwanya. Kelompok aneh memiliki sedikit kecerdasan dalam meyakinkan publik untuk mempercayai apa yang dikatakan dengan mengaitkan dan mendukung fatwa kepada dalil-dalil agama yang mereka gunakan. Mengenai tradisi yang biasa dilakukan masyarakat muslim nusantara, kita harus mengetahui bahwa amalan itu juga memiliki sandaran dalil dalam prakteknya. Para ulama terdahulu mewariskan tradisi amalan itu bukan atas dasar ilmu pengetahuan yang rendah melainkan dengan ijtihad ilmunya. Oleh karena itu kita jangan sampai memandang sebelah mata para ulama terdahulu.

Namun saya juga mengerti. Mengapa kelompok aneh itu bersikap demikian? Saya mengamati bahwasannya memang terjadi beberapa hal penyimpangan atau kesalahpahaman yang dilakukan beberapa masyarakat dalam melakukan tradisi riungan dan ziarah kubur. Melalui pengalaman yang saya alami dalam melakukan kedua hal itu, kekeliruan terletak kepada siapa doa itu di tujukan. Berdoa bersama untuk mendapat keberkahan ridho Allah Swt adalah hal yang baik. Namun menjadi tidak baik ketika doa itu tidak ditujukan langsung kepada Allah melainkan di “titipkan” atau malah berdoa memohon pertolongan kepada orang-orang saleh di masa lalu. tentu hal itu tidak dibenarkan oleh agama. Mana mungkin orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan? Ziarah kubur bermanfaat bagi diri kita untuk mengingat bahwa raga kita juga akan mengalami kematian. Muhasabah diri agar mempersiapkan amalan lebih baik lagi untuk menghadap Allah Swt di akhirat. Melakukan ziarah kubur untuk mendoakan orang yang sudah meninggal agar Allah senantiasa memberikan pengampunan adalah hal yang amat baik apalagi jika pusara tersebut adalah makam kedua orang tua. Namun jadi tidak berkah dan bermanfaat apabila ketika berziarah malah berdoa kepada yang dimakamkan dan bukan kepada Allah Swt.

Lagi-lagi Kita harus berhati-hati dalam menyikapi persoalan. Penyimpangan yang disebabkan kesalah pahaman itu tidak bisa kita generalisir dengan menyimpulkan bahwa seluruh praktek riungan dan ziarah kubur yang dilakukan oleh masyarakat itu menyimpang. Jelas tidak. Dalam buku Fiqh Siyasah karya Prof. Zakaria Syafe’i dikatakan bahwa apabila suatu permasalahan jatuh menjadi objek ijtihad maka akan terbuka peluang untuk adanya khilaf atau perselisihan pendapat dikalangan ulama. Meskipun buku tersebut secara substansial membahas mengenai negara dalam perspektif islam tetapi inti dari argumentasi mengenai sebab timbulnya perselisihan pendapat dikalangan ulama berlaku secara umum yakni manakala suatu permasalahan jatuh menjadi objek ijtihad dan dalam hal ini amalan ziarah kubur dan tahlilan termasuk kedalam objek yang jatuh pada tataran ijtihad. Oleh karena itu pandangan mengenai hal tersebut berbeda-beda maka kita harus bersikap bijak. Mengenai kesalahpahaman yang terjadi pada beberapa kasus pelaksanaan ziarah kubur dan tahlilan tidak dialami oleh seluruhnya. Karena kesalahpahaman dan kekeliruan hanya terjadi pada beberapa kasus saja. Oleh karenanya sikap yang tepat dikemukakan adalah upaya pendidikan pemahaman. Bukan malah tergesa-gesa berfatwa sesat. Kita harus bersikap bijak menjadi pisau analisis objektif yang berdiri tanpa memihak kepada siapapun ketika memberikan pengamatan.

Kembali kepada fenomena perilaku manusia yang mengambil peran Tuhan. Sebetulnya, perampasan yang berani dari seorang manusia kepada peran Tuhannya bukan saja pada konteks fatwa buruk yang disematkan kepada pihak lawan akan tetapi terjadi juga pada konteks fatwa baik yang mereka klaim menjadi balasan bagi dirinya. Saya pernah menonton ceramah seorang ustad dalam video yang disebarkan melalui Status WhatsApp, ada juga pengalaman menghadiri langsung ceramah ke lokasi. Dalam ceramahnya seorang ustad pondok itu berbicara kepada jamaah mengenai klaimnya atas orang-orang yang tidak menimba ilmu di pondok akan ditempatkan di neraka. Dengan begitu, dia telah mengklaim dirinya akan mendapatkan surga. Lantas dari mana dia mengetahui perkara gaib? Sekali lagi, baiknya kita jangan sampai merasa diri lebih tinggi dari siapapun sebab Azazil yang taat kepada Allah pun akhirnya dilaknat akibat kesombongan diri sendiri. Maksudnya ialah sebaik atau seburuk apapun manusia, tidak ada yang mengetahui bagaimana nasibnya di akhirat nanti. Mungkin apabila melihat amalan yang pernah dilakukannya, ada manusia yang terlihat baik tetapi kita tidak bisa mengklaim bahwa dia pasti mendapat surga. Begitupun sebaliknya. Lantas lalu untuk apa kita berbuat sesuai dengan perintah Tuhan  apabila nasib di akhirat saja tidak jelas?

Di dalam realita kehidupan kita mengetahui sebuah teori kausalitas tentang sebab akibat. Teori sederhana itu menjelaskan kepada kita semua mengenai proses dari aktivitas atau tindakan yang dilakukan pasti akan menimbulkan akibat. Sebagai contoh apabila kita menolong seseorang yang sedang kesulitan ekonomi dengan memberikannya bantuan berupa uang atau bahan makanan niscaya orang yang dibantu akan merasa senang dan gembira sehingga dia akan menghormati dan menghargai serta tidak melupakan bantuan yang pernah kita berikan, dia akan berbuat baik kepada kita dan kitapun sebaliknya. Dari sana bisa dipahami bahwa kebaikan berbalas kebaikan sedangkan keburukan berbalas keburukan. Oleh sebab itu, memilih berbuat sesuai dengan ajaran Tuhan yang jelas-jelas merupakan jalan yang benar adalah pilihan yang tepat meskipun kita belum mengetahui nasib di akhirat nanti. Beribadah dengan ikhlas, berbuat baik setulus hati tanpa mengharapkan imbalan maka apapun akan berjalan dengan mudah dan senang.

Persoalan surga dan neraka adalah ketentuan Tuhan. Dialah yang berhak mengklaim hamba-Nya masuk kedalam surga atau neraka. Dalam tulisan yang mungkin banyak mengandung kekurangan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita harus berhati-hati dalam berkata mengenai klaim surga dan neraka atau taat dan sesat. Terkecuali ketentuan-ketentuan Tuhan yang sudah tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an. Meskipun begitu, tetap kehati-hatian adalah yang utama dalam memilah dan memilih kata-kata yang tepat untuk menunjukan gagasan atau pikiran yang ingin kita sampaikan kepada siapapun.

0 Komentar