Toleransi Sederhana Bersama Dua Gadis Gereja

 

(Ilustrasi Toleransi, by: pixabay)

SERANG (14/11) pada waktu menjelang sore dan angin semilir menghampiri jiwa dan tubuh yang lelah para pengunjung alun-alun Kota Serang, Angel dan Naomi duduk bersantai di kedai Internet WiFi.id. Mereka menikmati waktu sejuk serta rindangnya pohon-pohon setelah beribadah di Gereja.


Kedai internet ini sudah seperti teman setia bagi mereka karena setiap setelah selesai beraktivitas di pusat kota dan ingin mencari tempat bersantai, lokasi itulah yang menjadi tujuannya. Saya yang tengah mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan 36, mendapat tugas mencari narasumber untuk di wawancara. Dan mereka berdua yang bersedia, Angel dan Naomi.


Sebelum bertemu dengan keduanya, sepintas saya berjalan-jalan santai di alun-alun sebelah barat itu. Terlihat beberapa anak muda sedang joging, bermain futsal, mengambil foto dan adapula yang sedang bermesraan menyemai cinta. Dimana tentunya membuat saya merasa kasihan kepada diri sendiri. Tapi apalah daya, belum cukup biaya saya walau hanya untuk membeli makan dan minum dalam berkencan.


Pembicaraan di Kedai Internet itu memang tidak lama karena Angel dan Naomi, dua pelajar SMA yang baru saja menyelesaikan ibadah di Gereja, agak sedikit canggung dan malu. Kami hanya berbincang ringan saja, soal kenyamanan memakai fasilitas dan jaringan internet yang disediakan. Angel mengatakan bahwa fasilitas cukup nyaman, udara juga cukup segar walau di pusat kota. Karena di alun-alun banyak tumbuh pohon-pohon menghijau.


Kemudian saya bertanya kepada Naomi, "Sudah berapa kali datang kesini?" 

Dia bilang, "Sering." 

"Lalu bagaimana kualitas jaringan internet yang disediakan WiFi.id mba?"


Jawaban pertanyaan ini membuat dompet saya bergetar. Karena apa? Mereka berdua tak pernah pakai jaringan internet yang disediakan oleh WiFi.id dengan biaya membeli Voucher atau pulsa.


Jadi mereka kesana hanya untuk duduk bersantai dan mengobrol ringan. Kemungkinan mereka dari masyarakat kelas menengah ke atas. Jadi tak perlu seperti saya yang selalu mencari peluang terbesar meminimalisir pengeluaran biaya. Ini bukan pelit ya, tapi hemat teman-teman.


Di perbincangan terakhir, saya bertanya ramah, 

"mba sebentar lagi Natal ya?", 

"Iya". Serentak mereka jawab.

"Semoga Natalnya bahagia ya mba".

"Ohh iya makasih Mas." 


Seutas senyum terkembang dari wajah mereka, menutup perbincangan sederhana di alun-alun barat Kota Serang. Saya beranjak dari bangku, mengalungkan kembali tas ke pundak, bergegas menuju lokasi kumpulan KMRD36. Dalam benak tumbuh harap, semoga kedamaian dapat terus terawat di bumi Indonesia. Melalui hal kecil sekalipun, kita tetap harus berusaha menunjukkan toleransi bahwa agama adalah cinta.

0 Komentar