INDONESIANMIND.COM | Cianjur, 28 Juni 2026 — Semangat kebangsaan kembali digaungkan melalui Diskusi Terbuka Nasionalisme di Zaman Kita yang digelar di Lapangan Parkir Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, Desa Nagrak, Kabupaten Cianjur.
Acara yang dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai kalangan ini menghadirkan Dr. H. Tom Maskun, M.Pd., Anggota DPRD Jawa Barat, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Tedi Subarkah, sesepuh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran sekaligus eksponen Mahasiswa 1998.
Dalam paparannya, Tom Maskun menekankan bahwa nasionalisme bukan hanya soal kecintaan pada negara, melainkan juga harus diwujudkan melalui pelestarian seni dan budaya sebagai identitas bangsa. Ia mendorong mahasiswa untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan lebih serius.
Sementara itu, Tedi Subarkah menyoroti semakin langkanya ruang dialog lintas masyarakat di daerah. Menurutnya, forum seperti ini sangat dibutuhkan untuk membangun pemahaman kebangsaan di tengah dinamika global yang kompleks.
Diskusi berlangsung hidup dengan berbagai isu yang diangkat peserta, mulai dari tata kelola pemerintahan, penerapan Pancasila di era global, hingga tantangan media sosial. Tedi Subarkah juga mengingatkan pentingnya nilai-nilai Tri Sakti Bung Karno (berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan) sebagai fondasi pemerintahan yang baik.
Acara yang bertepatan dengan Bulan Bung Karno ini juga menampilkan praktik nyata nasionalisme melalui program Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran di bidang pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah organik.
Diskusi bertema “Nasionalisme di Zaman Kita” perlu terus digelar secara berkala di berbagai ruang untuk memperkuat semangat kebangsaan, budaya diskusi yang sehat, serta implementasi nilai-nilai Pancasila di tengah era digital.
Acara yang dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai kalangan ini menghadirkan Dr. H. Tom Maskun, M.Pd., Anggota DPRD Jawa Barat, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Tedi Subarkah, sesepuh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran sekaligus eksponen Mahasiswa 1998.
Dalam paparannya, Tom Maskun menekankan bahwa nasionalisme bukan hanya soal kecintaan pada negara, melainkan juga harus diwujudkan melalui pelestarian seni dan budaya sebagai identitas bangsa. Ia mendorong mahasiswa untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan lebih serius.
“Kekritisan mahasiswa sangat penting, tapi akan jauh lebih bermakna jika disampaikan melalui kajian ilmiah yang metodologis dan diimbangi dengan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Tom Maskun.
Ia memandang mahasiswa sebagai agen perubahan yang seharusnya mampu menghasilkan solusi konkret melalui penelitian dan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar kritik.Sementara itu, Tedi Subarkah menyoroti semakin langkanya ruang dialog lintas masyarakat di daerah. Menurutnya, forum seperti ini sangat dibutuhkan untuk membangun pemahaman kebangsaan di tengah dinamika global yang kompleks.
Diskusi berlangsung hidup dengan berbagai isu yang diangkat peserta, mulai dari tata kelola pemerintahan, penerapan Pancasila di era global, hingga tantangan media sosial. Tedi Subarkah juga mengingatkan pentingnya nilai-nilai Tri Sakti Bung Karno (berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan) sebagai fondasi pemerintahan yang baik.
Acara yang bertepatan dengan Bulan Bung Karno ini juga menampilkan praktik nyata nasionalisme melalui program Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran di bidang pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah organik.
Diskusi bertema “Nasionalisme di Zaman Kita” perlu terus digelar secara berkala di berbagai ruang untuk memperkuat semangat kebangsaan, budaya diskusi yang sehat, serta implementasi nilai-nilai Pancasila di tengah era digital.

Komentar0