INDONESIANMIND.COM | Teheran, Iran | Gelombang demonstrasi yang melanda Iran sejak awal Januari 2026 kembali memicu perdebatan sengit antara narasi domestik dan internasional. Media Barat menggambarkan situasi sebagai "kekacauan total" dengan klaim "kekerasan brutal rezim," sementara analis geopolitik seperti Dina Sulaiman memperingatkan adanya manipulasi narasi yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Iran—pola yang menurutnya telah berulang selama puluhan tahun.
Dinamika Demonstrasi: Dua Wajah yang Berbeda
Menurut analisis mendalam Dina Sulaiman dalam artikelnya berjudul "Aksi Demo di Iran: Iran Akan Runtuh?" (3 Januari 2026), demonstrasi di Iran memiliki dua karakter yang sangat berbeda. Di satu sisi, terdapat kelompok warga biasa—termasuk perempuan, pekerja, dan mahasiswa—yang melakukan protes damai menuntut solusi atas krisis ekonomi. Namun di sisi lain, muncul kelompok yang sengaja melakukan kekerasan, membakar properti umum, dan menghancurkan fasilitas negara.
"Ini bukan sekadar demonstrasi biasa," tegas Dina Sulaiman. "Ada upaya sistematis memanfaatkan kekecewaan rakyat Iran untuk tujuan geopolitik asing. Jika diperhatikan, setiap kali Iran menghadapi masalah internal, Barat selalu menghadirkan narasi tunggal: 'rezim harus tumbang'—sementara demonstrasi di negara Barat sendiri direspons dengan tindakan keamanan tanpa upaya penggulingan pemerintah."
Campur Tangan Asing yang Terang-terangan
Dina Sulaiman menyoroti pernyataan eksplisit dari tokoh-tokoh Amerika dan Israel yang justru mengonfirmasi keterlibatan asing. Pada 2 Januari 2025, Donald Trump menulis di media sosial: "Jika Iran menembak dan membunuh pengunjuk rasa damai dengan kekerasan, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan mereka."
Lebih mencolok lagi, mantan Direktur CIA dan Menlu AS Mike Pompeo secara terbuka menyatakan dukungan untuk "semua agen Mossad yang berjalan bersama para demonstran," sementara Jerusalem Post merilis pernyataan tak biasa dari Mossad dalam bahasa Farsi yang menyebutkan badan intelijen Israel "bersama para demonstran di jalanan."
"Ini bukan intelijen yang bekerja senyap, tetapi provokasi terbuka," komentar Sulaiman. "Mereka sengaja menunjukkan kartu mereka karena ingin memperkuat narasi bahwa rezim Iran rapuh dan akan segera runtuh."
Akar Masalah: Embargo versus Kegagalan Pemerintah
Sulaiman tidak menyangkal adanya masalah ekonomi di Iran. "Ayatullah Khamenei sendiri berkata, 'Kalau tidak ada luka di tubuh tentu tidak ada lalat yang mendekat,'" ujarnya. Ia mengakui bahwa kesulitan ekonomi seperti kenaikan harga bahan pokok dan bensin nyata dirasakan rakyat. Namun menurutnya, penyebab utamanya adalah embargo internasional yang dipaksakan AS—di mana negara-negara takut membeli minyak dan gas Iran karena ancaman sanksi—sekaligus mengkritik pemerintah Iran yang gagal mengelola krisis secara efektif.
Ia juga mengutip analisis dari pengamat Iran Nahid Poureisa, yang membedakan antara demonstran tulus yang "berdemo di bawah bendera Iran" dan kelompok perusuh yang "sedang berusaha membuka jalan untuk musuh." Konteks geopolitik terkini menunjukkan Israel—yang baru saja mengalami kekalahan 12 hari dalam konflik regional—sedang berusaha memanfaatkan situasi untuk melemahkan Iran dari dalam.
Pola Lama: Rekayasa Perubahan Rezim
Dalam analisisnya, Dina Sulaiman mengingatkan publik tentang pola berulang yang telah berlangsung sejak 1980-an. "Brooking Institution saja pernah menerbitkan paper akademik yang merekomendasikan strategi memicu aksi demo dalam negeri untuk menggulingkan rezim Iran," ungkapnya.
Ia juga mengecam hipokrisi media internasional yang secara selektif menyoroti kekerasan aparat keamanan Iran sambil mengabaikan praktik represif serupa di negara Barat. "Mengapa solusi untuk setiap masalah di Iran selalu 'penggulingan rezim,' sementara masalah serupa di negara lain diselesaikan melalui dialog dan reformasi?" tanyanya retoris.
Implikasi Geopolitik: Perang Informasi di Balik Protes
Dina Sulaiman menilai demonstrasi terkini lebih merupakan perang informasi dan psikologis ketimbang gerakan rakyat murni. "Musuh-musuh Iran tidak hanya ingin menekan Teheran, tetapi juga mengirim pesan ke Rusia dan China: lihatlah betapa rapuhnya sekutu kalian," jelasnya.
Di tengah upaya negosiasi nuklir yang mandek dan ketegangan regional yang memanas, Dina Sulaiman memperingatkan bahwa eskalasi provokasi terhadap Iran hanya akan memicu respons lebih keras dari Teheran dan memperburuk stabilitas kawasan.
Kesimpulan: Melihat di Balik Narasi
"Demonstrasi di Iran adalah fenomena kompleks yang tidak bisa disederhanakan sebagai 'perjuangan demokrasi versus kediktatoran'," tegas Sulaiman menutup analisisnya. "Kita perlu melihat secara kritis: siapa yang diuntungkan dari kekacauan ini, dan mengapa solusi dialog justru jarang ditawarkan media internasional?"
Bagi rakyat Iran biasa, protes adalah ekspresi frustrasi atas kesulitan hidup sehari-hari. Tapi bagi kekuatan global, setiap demonstrasi adalah kesempatan untuk merekayasa perubahan politik sesuai kepentingan strategis mereka.

Komentar0