INDONESIANMIND.COM | Jakarta, 23 Januari 2026 — Kebiasaan begadang sering dikaitkan dengan hilangnya fokus dan performa otak yang menurun pada hari berikutnya. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa fenomena ini bukan semata soal kelelahan, melainkan bagian dari respons kompleks otak ketika menghadapi kurang tidur.
Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa ketika seseorang kurang tidur, otak ternyata memicu proses pembersihan internal yang biasanya aktif saat tidur. Proses ini melibatkan aliran cairan serebrospinal yang membersihkan limbah metabolik di otak, namun ketika terjadi saat individu masih terjaga, kemampuan untuk mempertahankan fokus dan perhatian justru menurun secara signifikan.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Neuroscience, para ilmuwan mengamati relawan yang diuji baik dalam kondisi tidur cukup maupun setelah kurang tidur. Saat gelombang cairan pembersih ini muncul di masa bangun, peserta menunjukkan respons yang lebih lambat terhadap rangsangan visual dan auditori, serta mengalami hambatan dalam konsentrasi. Temuan ini menunjukkan bahwa otak mencoba menebus kekurangan tidur dengan ‘membersihkan’ dirinya sendiri, meski dengan konsekuensi buruk bagi fungsi kognitif saat itu.
Para peneliti juga mencatat bahwa perubahan fisiologis lain menyertai fenomena ini, termasuk denyut jantung yang melambat dan pupil mata yang mengecil ketika proses pembersihan berlangsung. Hal ini menunjukkan adanya koordinasi kompleks antara sistem saraf pusat dan respons tubuh lainnya saat mengalami kurang tidur.
Temuan studi ini mempertegas pentingnya tidur yang cukup sebagai bagian dari perawatan otak yang mendasar. Ketika tidur normal terjadi, proses pembersihan otak bekerja optimal tanpa mengorbankan fokus atau fungsi harian lainnya. Sebaliknya, begadang dapat memaksa otak “beralih mode” secara prematur, sehingga fokus dan performa kognitif menurun sementara otak mencoba memulihkan diri.

0 Komentar