INDONESIANMIND.COM | Padang — Angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan tajam dalam lebih dari satu dekade terakhir, dengan generasi Z menyebut tantangan ekonomi sebagai alasan utama menunda pernikahan, menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH).
Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah pernikahan secara nasional turun dari sekitar 2,1 juta pada 2014 menjadi sekitar 1,4 juta pada 2025, atau hampir 30 persen penurunan dalam kurun waktu 11 tahun terakhir. Penurunan ini mencerminkan perubahan pola demografi dan sikap masyarakat terhadap lembaga pernikahan.
Sejumlah generasi muda menyebut alasan utama mereka menunda pernikahan adalah ketidakpastian finansial. Ari (26), seorang pekerja swasta di Kota Padang, mengaku belum merasa siap secara finansial untuk membangun rumah tangga. “Biaya hidup sudah sangat tinggi. Saya harus memikirkan cicilan rumah, kendaraan, dan biaya pendidikan anak nanti,” katanya.
Kesiapan mental juga menjadi pertimbangan penting bagi sebagian generasi Z. Menurut Afdhal (25), tekanan biaya hidup di perkotaan membuat rencana menikah harus ditunda hingga kondisi ekonomi dirinya stabil. Ia juga merasa penting untuk menyelesaikan pendidikan atau meniti karier terlebih dahulu sebelum berkomitmen pada pernikahan.
BPS menilai penurunan angka pernikahan ini mencerminkan sikap masyarakat yang semakin mempertimbangkan stabilitas ekonomi dan kesiapan pribadi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, berbeda dari generasi sebelumnya yang sering menikah lebih dini.
Sumber:
0 Komentar