![]() |
| pixabay.com |
Madilog karya Tan Malaka sepertinya adalah buku yang menyenangkan untuk mempelajari filsafat materialisme. Sebuah paham yang mendasarkan pikiran rasional kepada hal kebendaan yang bersifat nyata dan ilmiah. Lebih jelas Tan Malaka mengatakan bahwa "Madilog ialah cara berpikir berdasarkan materialisme, dialektika, dan logika buat mencari akibat, yang berdiri atas bukti yang cukup banyaknya dan cukup eksperimen dan diperamati".
Ternyata, hampir satu abad yang lalu, Tan Malaka sudah membicarakan tentang kemungkinan adanya kehidupan di "bumi yang lain" di alam raya. Pembahasan ini dapat kita jumpai dalam buku Madilog pada Bab VII yang berisi 11 pasal.
Tan Malaka membawa pembacanya memahami titik terkecil yang disebut "Atom" hingga ke "Alam Raya" yang berisi jutaan atau bahkan milyaran sistem bintang. Hal itu dilakukannya sebagai cara menunjukkan fenomena dialektika materialisme yang terjadi di kehidupan.
Atom adalah wujud pelaksanaan dialektika materialisme paling awal. Disebut demikian karena dalam unsur atom itu, kodrat menolak dan menarik terjadi. Proton yang bernilai (+) dan elektron yang bernilai (-) pada atom saling tarik-tolak dengan atom yang lain.
Misal molekul air (H2O) yang terdiri dari dua atom yakni dua Hidrogen dan satu Oksigen. Keduanya menyatu menjadi air untuk mencari keseimbangan, Oksigen memiliki nomor atom 8, berdasarkan hukum Octaves maka elektron Oksigen bernilai 2 di lingkaran pertama dan 6 di lingkaran kedua. Sedangkan, lingkaran kedua harus memiliki 8 elektron, oleh karena itu maka jalan menarik dua elektron Hidrogen adalah perlu dilakukan agar terjadinya keseimbangan.
Identifikasi unsur tertentu suatu planet melalui spectroscop
Ia menjelaskan dengan cara ilmiah bagaimana sebuah planet itu di prediksi terdapat kehidupan. Yakni melalui pengamatan menggunakan alat spectroscope terhadap objek bintang atau planet di angkasa, kita dapat mengetahui unsur apa saja yang terdapat di planet itu.
Unsur tertentu dapat diketahui berada di suatu planet melalui pencocokkan spektrum warnanya. Spektrum itu di dapatkan setelah cahaya melewati gas yang berasal dari unsur tertentu. Gas bersifat menyerap dan memancarkan cahaya. Apabila suhu dingin, maka gas akan menyerap foton, sebaliknya, jika suhu panas maka gas akan memancarkan foton. Misal seperti gambar dibawah.
![]() |
| id.quora.com/Fajar M Darojat |
Di bumi, para ilmuan sudah memiliki basis data terkait spektrum warna setiap unsur. Jadi, misal spektrum warna yang di dapatkan dari planet Mars di cocokkan dengan basis data yang ada di bumi, tenyata spektrum itu sama dengan unsur gas Hidrogen. Maka dapat di pastikan di planet Mars terdapat unsur Hidrogen. Begitu pula dengan pengamatan selanjutnya untuk mencari unsur Oksigen, Karbon, Nitrogen serta unsur lainnya.
![]() |
| id.quora.com/Fajar M Darojat |
Gambar di atas adalah contoh spektrum warna yang dimiliki oleh unsur Sodium, Hidrogen, Kalsium dan Merkuri. Tanda garis-garis warna itu adalah cahaya yang diserap atau di pancarkan oleh gas dari unsur-unsur tersebut.
Syarat adanya kehidupan di planet lain
Kehidupan yang di nikmati oleh manusia, hewan, tumbuhan serta mikroorganisme lain di planet bumi terjadi karena beberapa syarat tertentu. Tan Malaka mengidentifikasi hal ini dengan menyebutnya sebagai "Alat adanya hidup.
Syarat untuk sebuah planet dapat dihuni oleh makhluk hidup yakni pertama, suhu yang tidak boleh lebih dan kurang dari 150° F atau 65,5° C. Kedua, tersedianya air dan udara (baca: oksigen). Ketiga, Tan Malaka menyebutnya "cukup kodrat buat semua gerakan" yakni misal untuk keadaan yang mendukung suatu senyawa CO2 di serap oleh tumbuhan dan melepas O2 ke udara dengan bantuan sinar Matahari. Maka kodrat yang cukup itu contohnya cahaya matahari yang ideal menyinari tumbuhan. Keempat, adanya lapisan Ozon (O3) di atmosfer suatu planet. Karena Ozon berfungsi untuk menyerap gelombang pendek cahaya matahari yang berbahaya yang disebut sinar ultraviolet. Kelima, zat racun bagi makhluk hidup, seperti Amonia, Clorine dan Karbonmonoksida harus berada dalam keadaan yang tidak membahayakan.
Planet Venus dan Mars
Venus oleh para ilmuwan sering disebut saudara kembar bumi. Karena massa dan kemampuan mengikat atom yang hampir sama dengan bumi. Venus memiliki diameter 7,700 mil sedangkan bumi 7,927 mil. Terkait keadaan suhu planet Venus, angkanya berkisar dibawah 100° C. Itulah sebabnya Venus dijuluki saudara kembar bumi, meskipun tidak secara mutlak sama.
Karena keadaan suhu yang cukup panas itu Tan Malaka berpendapat kemungkinan Oksigen di Venus hanya sedikit. Namun bisa dipastikan jika CO2 tersedia cukup banyak. Ia mengutip seorang ilmuan bernama Adams dan Dunham (melakukan penelitian pada 1932) yang diteruskan oleh Adel dan Sliper, memprediksi banyaknya CO2 di Venus setebal 2 mil di atmosfernya.
Selanjutnya Tan Malaka menjelaskan tentang sifat unsur Oksigen yang disebutnya aktif, lasak, jalang dan liar. Itu karena Oksigen adalah unsur yang selalu ingin berpadu dengan unsur yang lain. Jika Oksigen ada di udara maka adanya itu disebabkan oleh tumbuhan. Karena tumbuhan menarik CO2 lalu melepaskan O2. Namun pada suhu Venus yang berkisar pada angka 100° C, mustahil tumbuhan dapat hidup.
Maka menurut Tan Malaka, Venus belum bisa memiliki kehidupan. Tapi katanya, itu adalah keadaan bumi beberapa ratus juta tahun yang lalu. Maka semakin waktu berjalan, lambat laun, Venus akan sampai pada keadaan seperti bumi kita yang sekarang. Sementara, bumi kita akan sampai pada keadaan seperti planet Mars.
Berpindah ke planet Mars, memiliki diameter 4,215 mil, lebih sedikit dari setengahnya diameter bumi 7,927 mil. Planet Mars pernah di prediksi terdapat kehidupan di masa lalunya. Tan Malaka kembali mengutip seorang ilmuan bernama Dr. Wright yang bekerja di Observatory, Amerika yang mengambil gambar menggunakan warna infra-red. Menurutnya, warna itu bisa sampai ke permukaan Mars sehingga bisa melewati dan memastikan adanya udara (menurut penulis, maksudnya adalah Oksigen.
Keyakinan adanya udara di atmosfer planet Mars juga di dukung dengan hasil photo spektrum cahaya berwarna merah di permukaan Mars. Warna merah itu memastikan adanya unsur Oksigen karena warna tersebut cocok dengan warna gunung yang tanah logamnya berpadu dengan Oksigen.
Oksigen yang terdapat di planet Mars menunjukkan bahwa kemungkinan ada tumbuhan disana. Karena Oksigen adalah hasil dari proses respirasi yang dilakukan oleh tumbuhan. Daun yang mengandung klorofil akan menyerap CO2 dan melepaskan O2 ke udara.
Tan Malaka menguatkan prediksi itu dengan kembali menyuguhkan hasil penelitian dari seorang ilmuan bernama Percival Lowell yang mendirikan Observatory Hagstaff di Amerika. Hasil photo yang menunjukkan bagian gelap atau hitam di planet Mars adalah daerah tumbuhan dan bagian berwarna merah tidak memiliki tumbuhan atau daerah kosong.
Penelusuran terkait kehidupan di planet Mars berlanjut terhadap kemungkinan jejak kehidupan yang ditinggalkan oleh yang "berakal", demikian Tan Malaka menyebutnya. Pada tahun 1877, seorang ilmuan Italia bernama Scheaparelli mendapatkan gambar garis kehitaman yang bersilang-siur di daratan benua Mars yang menghubungkan lautan satu dengan lainnya. Garis kehitaman itu diprediksi sebagai kanal atau terusan air.
Pada masa selanjutnya, temuan itu di teliti kembali oleh Lowell, ahli Amerika tadi, yang menganggap kanal yang teratur, panjang dan sesuai dengan geometri seharusnya adalah buatan manusia. Kanal itu sepertinya berfungsi untuk mengalirkan air dari kutub Mars. Menurut Lowell, pembangunan kanal itu dilakukan oleh manusia di planet Mars tidak lain adalah upaya untuk bertahan hidup dari perubahan iklim yang terjadi. Dimana suhu Mars dari masa ke masa semakin meningkat.
Namun Tan Malaka kemudian menerangkan kembali eksperimen yang membatalkan prediksi dari Lowell. Seorang ilmuan bernama Dr. Bernhard melakukan pengamatan di permukaan planet Mars tetapi tidak menemukan garis kehitaman atau kanal yang dikatakan oleh Scheaparelli dan Lowell. Jika kanal itu bukan buatan manusia melainkan hasil alam. Maka prediksi adanya manusia di Mars "sementara" tidak dapat diterima.
Kata "sementara" digunakan Tan Malaka karena ia mengatakan mungkin saja di masa depan "perkakas yang lebih jitu" atau teknologi bisa membuktikan sebagian atau seluruhnya predikisi Scheaparelli dan Lowell. Lagi pula menurut Tan Malaka, ada atau tidaknya manusia tidaklah bergantung pada teratur atau tidaknya kanal itu. Bisa saja buatan makhluk berakal lainnya yang berbeda dengan manusia.
Makhluk berakal yang disebut Tan Malaka, katanya mungkin saja berbeda struktur unsur dan molekul yang membentuk badannya. Jika tubuh manusia berdiri di atas dasar unsur karbon, maka mungkin bukan unsur karbon yang menjadi dasar tubuh makhluk berakal di Mars, melainkan silicon. Karena unsur silicon lebih tahan dari suhu panas daripada karbon.
Sehingga jika ada makhluk berakal seperti manusia di planet Mars mungkin sekali berbeda struktur unsur dasar yang membentuk badannya. Walaupun manusia di bumi dan manusia di Mars itu sama jenisnya yang "berakal".
Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan oleh Tan Malaka dari berbagai ahli, dirinya mendapat kesimpulan jika di planet Mars kuat kemungkinan adanya tumbuhan. Sementara yang hidup seperti hewan dan manusia belum bisa dipastikan. Sementara yang pasti ialah Mars dari waktu ke waktu kehilangan air dan udara (oksigen). Seandainya pada masa lalu planet Mars pernah memiliki kehidupan hewan dan manusia, kemungkinan sulit sekali untuk melanjutkan kehidupan itu karena semakin hilangnya unsur penting berupa Oksigen, penghasil energi bagi hewan dan manusia untuk hidup.
Pada akhirnya menurut Tan Malaka Venus memberi gambaran pada kita tentang keadaan bumi di masa jutaan tahun yang lalu, yakni ketika bumi masih muda. Sedangkan Mars sedang tergopoh-gopoh kesulitan mempertahankan kehidupannya memberi gambaran pada kita bagaimana bumi di masa tuanya.



0 Komentar